SEMARANG, beritajateng.tv – Pakuwon Mall Semarang yang lokasi pembangunannya di kawasan Gombel Lama terancam mengalami fenomena tanah geser atau tanah bergerak.
Pakuwon Mall Semarang digadang-gadang menjadi pusat perbelanjaan atau mal terbesar di Indonesia. Diketahui, mal tersebut dibangun di atas lahan seluas 12,7 hektare pada tahap pertama.
Sementara itu, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah, Agus Sugiharto, mengakui kawasan Gombel Lama memang termasuk wilayah dengan potensi tanah bergerak.
“Kalau kita jalan di Jalan Gombel Lama itu ada satu kelurusan jalan, meskipun sudah dibeton dan dicor setebal itu, lama-lama seperti patah, ada perbedaan ketinggian,” ujar Agus saat beritajateng.tv hubungi via panggilan WhatsApp, Kamis, 12 Februari 2026.
Saat ditanya soal potensi bahaya pembangunan mal di kawasan tersebut, Agus mengaku pihaknya tidak pernah menerima konsultasi resmi dari pengembang atau developer.
“Saya enggak tahu karena enggak pernah konsultasi juga dengan kami. Tapi yang jelas dari kami sudah menyampaikan peta-peta potensi gerakan tanah dan struktur geologi,” tegas Agus.
Agus mengingatkan, kawasan Gombel Lama bukan kali ini saja menunjukkan indikasi pergerakan tanah. Ia menyinggung kasus perumahan Gombel Indah yang pernah mengalami kerusakan cukup serius.
“Ingat perumahan Gombel Indah yang sekitar 40 rumah pecah-pecah? Di situ ada mata air besar. Itu memang pergerakannya lambat, tapi sewaktu-waktu terjadi gerakan pasti akan memengaruhi bangunan konstruksi yang ada di atasnya,” jelas Agus.
BACA JUGA: Pakuwon Berencana Investasi Hingga Rp 2 Triliun di Semarang
Ia menyebut wilayah tersebut memiliki karakter litologi berupa tanah lempung atau clay yang tebal serta berada di zona struktur geologi aktif.
“Selain litologinya clay atau lempung, juga merupakan zona struktur geologi yang aktif. Kenapa aktif? Faktanya tiap tahun ada pergerakan di daerah situ,” ujar Agus.
Menurutnya, tanah lempung memiliki sifat mampu menyerap air, namun sulit melepaskan air. Kondisi itu, kata dia, membuat tanah mudah jenuh dan kehilangan daya ikat antarbutir ketika terus-menerus terkena air.





