SEMARANG, beritajateng.tv – Menjelang Ramadan 2026, Pemerintah Kota Semarang melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) mengintensifkan upaya pencegahan kenakalan remaja.
Salah satunya melalui Focus Group Discussion bertema Bersama Mencegah Kenakalan Remaja untuk Terwujudnya Situasi Kamtibmas yang Tertib, Damai dan Kondusif Jelang Ramadan.
FGD Kesbangpol Kota Semarang berlangsung di Hotel Horison Nindya Semarang, Kamis (12/2/2026).
Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Polrestabes Semarang, unsur TNI dari Koramil Genuk, serta perwakilan Badan Intelijen Negara. Diskusi tersebut melibatkan remaja, tokoh masyarakat, dan orang tua sebagai peserta utama.
Kepala Bidang Kewaspadaan Nasional dan Penanganan Konflik Kesbangpol Kota Semarang, Wiwoho Budi Hartono, mengatakan pihaknya sengaja menyasar kelompok remaja dan keluarga karena peran mereka sangat penting dalam mencegah potensi konflik sosial.
“Kami ingin melalui sosialisasi ini para orang tua dan tokoh masyarakat bisa menyampaikan kembali kepada anak-anaknya, terutama saat ada kegiatan di wilayah masing-masing. Tujuannya agar remaja tidak mudah terpengaruh hal-hal negatif,” ujarnya.
Wiwoho menyoroti sejumlah persoalan yang kerap muncul menjelang Ramadan, seperti konsumsi minuman keras, penyalahgunaan narkoba, balap liar, hingga tawuran. Salah satu fenomena yang menjadi perhatian adalah tawur sarung.
Menurutnya, tradisi tersebut awalnya hanya permainan biasa menggunakan sarung. Namun dalam praktiknya, ada oknum yang mengisi sarung dengan batu, gir, atau besi sehingga berpotensi melukai bahkan menyebabkan korban jiwa.
BACA JUGA: Temukan Bendera One Piece Diperjualbelikan di Semarang, Kesbangpol Lakukan Pengawasan dan Edukasi
“Kalau hanya sarung tentu tidak masalah. Tapi ketika di isi benda keras, itu sudah membahayakan. Kita ingin Ramadan berjalan tenang tanpa ada korban akibat kenakalan remaja,” jelasnya.
Kesbangpol mencatat potensi konflik remaja masih muncul di sejumlah wilayah. Oleh karena itu, kegiatan sosialisasi akan di perluas hingga tingkat kelurahan, terutama di kecamatan yang dinilai rawan.
“Kami akan turun ke kelurahan-kelurahan, khususnya di wilayah yang memiliki kerawanan konflik remaja maupun konflik sosial lainnya. Beberapa titik seperti Semarang Utara dan Gayamsari menjadi perhatian,” katanya.
Dalam forum tersebut, aparat kepolisian dan TNI juga mengingatkan pentingnya pengawasan orang tua terhadap aktivitas anak, terutama pada malam hari selama Ramadan. Kegiatan sahur on the road atau nongkrong hingga larut malam perlu di awasi agar tidak berujung tindakan kriminal.
Melalui FGD ini, Kesbangpol berharap tercipta kolaborasi antara pemerintah, aparat keamanan, tokoh masyarakat, dan keluarga untuk menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif.
Ramadan harapannya menjadi momentum pembinaan karakter remaja, bukan justru ajang pelampiasan perilaku negatif. (*)
Editor: Elly Amaliyah





