Agus menekankan, karakter gerakan tanah seperti ini sering kali luput dari perhatian karena tidak terjadi secara tiba-tiba, namun dampaknya bisa merusak secara permanen.
Sejumlah Infrastruktur di Padasari Tegal Alami Kerusakan Serius Imbas Tanah Bergerak
Akibat peristiwa tanah bergerak di Desa Padasari, Agus mengungkap sejumlah infrastruktur mengalami kerusakan serius.
“Selama ini hujan terus, kejadiannya masih berjalan. Jembatan yang awalnya hanya miring sedikit, sekarang sudah ambrol dan tidak bisa dipakai sama sekali,” ungkapnya.
Tak hanya itu, Agus juga menyebutkan laporan dari tim di lapangan menunjukkan kerusakan berat pada struktur bangunan.
“Bahkan jembatan besi yang besar itu pondasinya sudah lari, sudah bergeser. Jalan juga sudah tidak bisa dipakai,” jelas Agus.
BACA JUGA: Minim Resapan Air, Tanah Longsor Terjadi 55 Kali di Semarang Sejak Januari 2026
Dinas ESDM memastikan pemerintah telah menyiapkan langkah penanganan bagi warga yang rumahnya tidak lagi memungkinkan untuk dihuni.
“Pemerintah sudah memberikan solusi bagi masyarakat yang tempat tinggalnya tidak mungkin dihuni lagi. Itu sudah dicarikan lokasi di dua lokasi tanah milik Perhutani,” ujar Agus.
Saat ini, lanjut dia, tim ESDM tengah melakukan kajian mendalam di lokasi relokasi yang direncanakan.
“Hari ini kami kirimkan tim untuk melakukan kajian secara detail, menyeluruh, dan teliti untuk memastikan lokasi yang dicadangkan untuk hunian tetap warga itu betul-betul aman dan tidak terjadi bencana di tempat relokasi yang baru,” tegasnya.
Sejumlah Wilayah di Kota Semarang Terancam Alami Tanah Geser, Ada Gombel dan Manyaran
Selain Kabupaten Tegal, Boyolali, dan Pemalang, Agus menyebut sejumlah wilayah di Kota Semarang juga memiliki potensi gerakan tanah rayapan akibat karakter tanahnya.
“Di Semarang itu, sekitar Jalan Dewi Sartika naik sedikit, itu creeping juga. Potensinya rayapan karena lempungnya tebal dan ada kemiringan,” jelas Agus.
Ia juga menyebut kawasan perbukitan di Semarang Barat dan Semarang Selatan.





