SEMARANG, beritajateng.tv – Kota Semarang memasuki periode rawan bencana seiring puncak musim hujan yang akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.
Sejak awal Januari 2026, bencana tanah longsor tercatat mendominasi dengan jumlah kejadian mencapai 55 kasus di berbagai wilayah di Semarang.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, Endro Pudyo Martanto, menyebut tanah longsor menjadi bencana dengan frekuensi tertinggi sepanjang awal tahun ini.
Kondisi tersebut lantaran minimnya lahan resapan air serta berkurangnya vegetasi, terutama di kawasan Semarang bagian atas yang memiliki kontur perbukitan.
“Hingga saat ini, kejadian tanah longsor dan tanah amblas sudah terjadi sebanyak 55 kali. Angka ini paling tinggi dari jenis bencana lainnya,” kata Endro, Jumat, 6 Februari 2026.
Ia menjelaskan, kawasan perbukitan di Semarang bagian atas menjadi wilayah paling rawan karena perubahan fungsi lahan yang cukup masif. Area yang seharusnya berfungsi sebagai resapan air kini berubah menjadi kawasan permukiman padat.
“Banyak wilayah yang resapannya sudah sangat berkurang. Karena itu, Pemerintah Kota Semarang berencana membangun embung-embung di daerah yang minim resapan untuk mengurangi risiko longsor,” ujarnya.
Ancaman longsor kembali terjadi pada Rabu (4/2) dini hari di kawasan Villa Payung Indah, Kelurahan Pudak Payung, Kecamatan Banyumanik. Longsor terjadi sekitar pukul 03.15 WIB di talud sungai Jalan Ngesrep Raya akibat derasnya aliran air hujan.
BACA JUGA: EWS Sungai Plumbon Rusak, BPBD Semarang Pastikan Pemasangan Baru Tahun Ini
Talud sungai yang tidak mampu menahan tekanan air akhirnya ambrol dan menyeret tanah di sekitarnya. Satu rumah milik Wilda Nugraha terdampak langsung akibat kejadian tersebut. Rumah tersebut di huni satu kepala keluarga dengan empat jiwa.
“Ukuran longsoran kurang lebih sepanjang 30 meter, lebar 5 meter, dan tinggi sekitar 4 meter. Talud sungai tergerus aliran air hujan yang cukup deras,” jelas Endro.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kejadian ini menyebabkan kerugian materi yang di taksir mencapai Rp200 juta. Bagian rumah warga mengalami kerusakan akibat tergerus tanah dan aliran air sungai.
Pasca kejadian, warga segera melaporkan peristiwa tersebut kepada ketua RT dan RW, lalu diteruskan ke pihak kelurahan dan kecamatan.
Petugas gabungan dari BPBD Kota Semarang, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta perangkat wilayah langsung mendatangi lokasi untuk melakukan asesmen, pendataan, dokumentasi, dan penanganan darurat.
BPBD Kota Semarang kembali mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, khususnya bagi warga yang tinggal di wilayah rawan longsor dan banjir.
“Kami mengimbau masyarakat untuk mengenali potensi bencana di lingkungannya. Jika terjadi hujan lebat dalam durasi panjang, segera berkoordinasi dengan RT, RW, kelurahan, kecamatan, atau dinas terkait,” kata Endro.
Ia juga meminta warga untuk waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang di sertai angin kencang selama puncak musim hujan masih berlangsung. (*)
Editor: Elly Amaliyah





