“Daerah arah Manyaran ke atas, sekitar Kali Pancur, itu juga creeping. Termasuk yang di Gombel, di atas lapangan golf itu juga creeping. Tanahnya clay,” kata Agus.
Menurutnya, kerusakan di wilayah-wilayah tersebut umumnya terjadi secara bertahap. “Pecahnya pelan-pelan. Tapi lama-lama tergeser,” imbuhnya.
Lebih jauh, Agus menegaskan wilayah dengan potensi gerakan tanah seharusnya dihindari untuk permukiman. Namun, ia memahami tidak semua masyarakat mengetahui karakter geologi wilayah tempat tinggalnya.
BACA JUGA: Tanah Longsor Landa Sejumlah Titik Selama Dua Hari, Warga Kaligawe Kian Was-was
“Kalau kita tahu ada potensi bencana, ya harus dihindari. Tapi kan tidak semua memahami bahwa di situ ada potensi. Selama tidak ada pemicunya, itu terlihat tidak masalah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, air menjadi salah satu pemicu utama terjadinya rayapan tanah, terutama bila diperparah oleh sistem drainase yang tidak baik.
“Pemicunya salah satunya air. Kemudian budidaya kita, caranya membuat saluran atau drainase yang tidak benar, sehingga air masuk ke dalam tanah dan menambah massa tanah,” papar Agus.
Agus menjelaskan secara teknis sifat tanah lempung yang rawan mengalami gerakan. Berbeda dengan tanah pasir, lanjut Agus, yang relatif lebih stabil terhadap air.
“Lempung itu kemampuan menyerap airnya tinggi, tapi melepaskan airnya sulit. Dia impermeable. Porositasnya ada, tapi airnya tidak mau keluar. Kalau pasir, air masuk gampang dan keluar gampang. Kalau lempung, dia menyerap tapi tidak mau melepas. Jadi seperti bubur,” ujar dia.
Kondisi tersebut menyebabkan daya ikat antarbutir tanah melemah ketika massa air bertambah. “Kalau massa airnya bertambah, daya ikat antarbutir berkurang. Maka tanah jadi lemah dan bergerak,” pungkas Agus. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





