SEMARANG, beritajateng.tv – Ruang demokrasi yang terbuka memberi kesempatan bagi siapa pun untuk menyampaikan kritik kepada pemerintah.
Namun di tengah derasnya arus opini di media sosial dan ruang publik, cara menyampaikan kritik dinilai menjadi hal yang tak kalah penting dibanding substansi yang disampaikan.
Pandangan itulah yang disampaikan anggota DPRD Kota Semarang dari Partai Gerindra, Herlambang Prabowo, menanggapi pernyataan eks Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, yang belakangan menjadi perbincangan publik.
Bagi Herlambang, kritik merupakan bagian penting dalam sistem demokrasi. Namun, ia mengingatkan agar kritik tidak berkembang menjadi narasi yang justru memunculkan keresahan dan mengikis kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
Menurutnya, masyarakat membutuhkan ruang diskusi yang sehat dan konstruktif, bukan sekadar penyebaran pandangan yang menggambarkan kondisi negara secara negatif tanpa melihat berbagai upaya yang tengah dilakukan pemerintah.
“Silakan mengkritik pemerintah, itu hak setiap warga negara. Tetapi jangan sampai membangun narasi kecemasan yang membuat masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap pemerintahnya sendiri,” ujarnya.
Herlambang menilai pemerintah saat ini sedang berupaya menjalankan berbagai program yang bertujuan memperkuat kemandirian bangsa.
Ia menyebut sejumlah kebijakan strategis membutuhkan waktu untuk menunjukkan hasil sehingga tidak bisa kita nilai secara instan.
“Saat ini pemerintah sedang berusaha mewujudkan cita-cita berdikari yang sejak dulu di cita-citakan para pendiri bangsa. Proses itu tentu tidak bisa selesai dalam waktu singkat,” katanya.
Di tengah polemik yang berkembang, Herlambang juga menyoroti pentingnya etika dalam menyampaikan pendapat.
Menurutnya, tradisi budaya Indonesia, khususnya falsafah Jawa, mengajarkan nilai kesantunan dan penghormatan kepada sesama, termasuk ketika menyampaikan kritik.
Dia berpendapat bahwa kecerdasan intelektual perlu berjalan beriringan dengan tata krama. Agar pesan yang tersampaikan dapat dterima dengan baik oleh berbagai pihak.
BACA JUGA: Istana Rekrut Homeless Media untuk Bantu Sebar Program Prabowo, Ada Dagelan hingga GNFI
“Keberanian menyampaikan kritik itu penting, tetapi harus berbarengan etika dan penghormatan kepada pihak yang di kritik. Jangan sampai merasa paling benar karena setiap orang bisa memiliki sudut pandang yang berbeda,” tuturnya.
Herlambang juga menilai diskursus publik seharusnya tidak hanya berfokus pada kekurangan pemerintah. Menurutnya, sejumlah capaian dan kebijakan yang positif juga perlu mendapatkan perhatian yang seimbang.
Ia mencontohkan beberapa langkah pemerintah yang menurutnya bertujuan memperkuat perekonomian nasional dan meningkatkan efisiensi pengelolaan keuangan negara.
“Ketika ada kebijakan yang mereka anggap berhasil atau kondisi ekonomi menunjukkan perbaikan. Hal itu juga layak dapat apresiasi. Jangan hanya sisi negatif yang terus di angkat ke ruang publik,” katanya.
Meski memberikan kritik terhadap cara penyampaian pendapat Tiyo Ardianto, Herlambang menegaskan ia tidak mempersoalkan substansi kritik terhadap pemerintah. Ia menyebut Presiden Prabowo Subianto terbuka terhadap berbagai masukan dari masyarakat.
Baginya, kritik yang mahasiswa sampaikan secara santun dan argumentatif justru dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah untuk memperbaiki kebijakan yang belum optimal.
Dalam kesempatan itu, Herlambang juga menyampaikan pesan khusus kepada Tiyo. Ia berharap aktivis mahasiswa tetap mempertahankan sikap kritis. Namun mengedepankan intelektualitas dan etika dalam setiap pernyataan yang di sampaikan kepada publik.
“Mahasiswa harus menjadi contoh intelektualitas. Kritik boleh, bahkan harus, tetapi dengan cara yang baik dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Menariknya, di tengah perbedaan pandangan yang muncul, Herlambang justru membuka ruang dialog. Ia menyatakan siap bertemu langsung dengan Tiyo Ardianto untuk berdiskusi dan bertukar gagasan mengenai berbagai isu kebangsaan.
Dia menyebut, perbedaan pendapat bukan alasan untuk menyerang, melainkan kesempatan untuk membangun pemahaman yang lebih luas melalui dialog yang sehat.
“Kalau ada kesempatan bertemu, saya siap berdiskusi. Dalam demokrasi, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa saling mengoreksi dan mencari solusi bersama untuk kepentingan bangsa,” tegasnya. (*)





