SEMARANG, beritajateng.tv – Tak terasa, kini sudah berada di penghujung Ramadhan. Selain ada ibadah wajib yang harus terlaksana, umat Muslim juga harus mengeluarkan zakat fitrah.
Hikmah membayar zakat fitrah yakni agar umat Islam memiliki perasaan terhadap penderitaan sesama. Semua umat Islam yang mampu memiliki kewajiban untuk membayarnya.
Waktu pembayaran itu terhitung sejak hari pertama bulan Ramadhan, hingga memasuki hari raya Idul Fitri. Tepatnya sebelum pelaksanaan sholat hari raya.
Ibnu Abbas meriwayatkan hadits perihal zakat fitrah terutama berkenaan dengan hikmah dan batas waktu pembayarannya. Haditsnya sebagai berikut.
عن ابن عباس: فرض رسول الله صلّى الله عليه وسلم زكاة الفطر طُهْرةً للصائم من اللغو والرَّفَث، وطُعْمةً للمساكين، فمَنْ أدَّاها قبل الصلاة فهي زكاةٌ مقبولةٌ، ومَنْ أدَّاها بعد الصلاة فهي صدقةٌ من الصَّدَقات رواه أبو داود وابن ماجة وصححه الحاكم
“Dari sahabat Ibnu Abbas
RA, Rasulullah SAW mewajibkan zakat sebagai penyucian bagi orang yang berpuasa dari ucapan sia-sia dan ucapan keji, dan sebagai sarana memberikan makanan bagi orang miskin. Siapa saja yang membayarnya sebelum shalat Id, maka ia adalah zakat yang diterima. Tetapi siapa saja yang membayarnya setelah shalat Id, maka ia terhidup sedekah sunnah biasa,” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah). Hadist ini shahih menurut Imam Al-Hakim.
Berdasarkan hadits ini, ulama menarik kesimpulan bahwa zakat fitrah adalah salah satu kebaikan yang bisa menghapus kesalahan dan dosa. Sebagaimana keterangan Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki atas hadits di atas:
زكاة الفطر حسنة من الحسنات تكفر السيئات قال تعالى إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ. وإخراج زكاة الفطر قبل الصلاة أفضل. والحكمة في ذلك أن لا يشتغل الفقير بالسؤال عن الصلاة
“Zakat fitrah merupakan salah satu bentuk kebaikan yang dapat menghapus dosa. Allah berfirman dalam Surat Hud ayat 114, ‘Sungguh, kebaikan itu dapat menghilangkan keburukan.’ Pembayaran zakat sebelum shalat Id lebih utama. Hikmah di balik itu bertujuan agar orang fakir yang menerimanya tidak melalaikan shalat Id karena sibuk mengemis untuk mencukupi kebutuhannya,” (Lihat Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan pertama, juz II, halaman 253).
Zakat Fitrah, Waktu Afdhol Membayarnya
Berdasarkan hadits ini juga, menurut pandangan mazhab Syafi’i, membagi pembayaran zakat fitrah ke dalam lima waktu sebagai berikut.
1. Waktu mubah, sejak awal hingga akhir Ramadhan. Tidak boleh membayar zakat sebelum memasuki Ramadhan.
2. Waktu wajib, waktu akhir Ramadhan dan awal Syawal.
3. Waktu sunnah, yaitu sebelum shalat Id berlangsung. Waktu ini berlangsung sejak malam takbiran hingga pagi sebelum shalat Idul Fitri.
4. Waktu makruh, yaitu setelah shalat Idul Fitri hingga tanggal 1 Syawal berakhir. Yaitu maghrib hari raya Idul Fitri.
5. Waktu haram, yaitu setelah tanggal 1 Syawal berakhir.
ووقت حرمة وهو ما بعد يوم العيد فإنه يحرم تأخيرها عنه وتكون قضاء يجب على الفور إن كان التأخير بلا عذر وإلا فعلى التراخي
“Waktu haram pembayaran zakat fitrah adalah waktu setelah hari raya Id karena sungguh haram memunda pembayaran zakat. Status pembayaran setelah itu adalah qadha, bukan tunai yang wajib segera dibayarkan jika ia tertunda tanpa uzur. Tetapi jika penundaan pembayaran zakat fitrah karena uzur, pembayaran qadha zakat fitrahnya boleh ditunda atau ditangguhkan,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, [Bandung, Al-Maarif: tanpa tahun], halaman 176).
Maka dari itu, kita dapat menarik kesimpulan bahwa batas akhir pembayaran zakat fitrah adalah waktu maghrib pada 1 Syawal, atau maghrib hari raya Idul Fitri. Pembayaran zakat fitrah setelah itu dianggap sebagai pembayaran qadha zakat (*).





