SEMARANG, beritajateng.tv – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyiapkan pengembangan ekosistem karbon biru di wilayah pesisir Jawa Tengah dengan potensi luasan mencapai belasan ribu hektare. Program tersebut fokus pada rehabilitasi dan revitalisasi mangrove sebagai upaya perlindungan pesisir, mitigasi abrasi dan banjir, sekaligus peningkatan ekonomi masyarakat pesisir.
Direktur Pembinaan Penataan Ruang Laut KKP, Amehr Hakim, menyebut berdasarkan hasil analisis awal yang pihaknya lakukan pada tahun lalu, Jawa Tengah memiliki potensi ekosistem karbon biru di kisaran 14 ribu hingga 17 ribu hektare.
“Bertipe ekosistem pesisir yang mengandung karbon biru, yaitu mangrove dan lamun. Untuk lokasi di Jawa Tengah, hasil analisis kami tahun lalu itu kurang lebih ada 14 ribu sampai 17 ribu hektare yang bisa dikembangkan sebagai lokasi karbon biru,” ujar Amehr saat beritajateng.tv jumpai di Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Tengah, Kota Semarang, Selasa, 27 Januari 2026.
Ia menjelaskan, dari dua jenis ekosistem karbon biru tersebut, potensi terbesar di Jawa Tengah berasal dari mangrove. Sementara itu, kata dia, ekosistem lamun relatif terbatas.
“Kalau di Jawa Tengah, hampir semuanya mangrove. Untuk lamun itu adanya di Taman Nasional Karimunjawa. Tapi yang ditetapkan sebagai lokasi karbon biru ini hampir 100 persen mangrove,” ujarnya.
Karbon Biru Bakal Tersebar di 16 Kabupaten/Kota dalam 3 Klaster
Amehr memaparkan, lokasi pengembangan karbon biru di Jawa Tengah akan dibagi dalam tiga klaster besar yang mencakup wilayah Pantai Utara dan Pantai Selatan Jawa.
“Kami bagi tiga klaster. Klaster satu di Pantura Jawa bagian barat dengan titik tengah di Semarang. Klaster dua Pantura Jawa bagian tengah sampai timur. Lalu klaster ketiga di Pantai Selatan. Total ada sekitar 16 kabupaten/kota yang akan ditetapkan sebagai lokasi karbon biru,” jelas Amehr.
Berdasarkan dokumen pemetaan lokasi mangrove Jawa Tengah yang beritajateng.tv terima, total area indikatif karbon biru di provinsi ini mencapai 22.232,80 hektare. Luasan tersebut tersebar di tiga klaster wilayah.
Klaster Pantura Barat mencakup wilayah Brebes, Kota Tegal, Kabupaten Tegal, Pemalang, Kabupaten Pekalongan, Kota Pekalongan, Batang, dan Kendal, dengan total luasan sekitar 7.594,04 hektare.
Klaster Pantura Tengah-Timur meliputi Kota Semarang, Demak, Jepara, Pati, dan Rembang, dengan total luasan sekitar 9.327,94 hektare.
Sementara Klaster Pantai Selatan mencakup Kabupaten Cilacap, Kebumen, dan Purworejo, dengan total luasan sekitar 5.310,83 hektare.
Klaim Mampu Lindungi Pesisir dari Abrasi dan Banjir, Sekaligus Pulihkan Ekosistem
Menurut Amehr, pengembangan karbon biru memiliki peran strategis dalam melindungi wilayah pesisir Jawa Tengah, khususnya kawasan Pantura yang selama ini rawan abrasi dan banjir.
“Di pesisir Pantura, karbon biru ini penting karena ekosistem mangrove punya fungsi melindungi pantai dari abrasi. Proyek karbon biru ini salah satunya adalah penanaman mangrove, sehingga bisa melindungi pesisir Pantura Jawa Tengah dari ancaman abrasi dan banjir,” terangnya.
Selain fungsi perlindungan, Amehr menegaskan ekosistem mangrove juga berperan penting dalam menjaga keanekaragaman hayati laut.
“Yang kedua itu mempertahankan keanekaragaman hayati. Di sektor kelautan dan perikanan ada kepiting, ada ikan, itu menjadi habitatnya. Itu yang menjadi target kami untuk merehabilitasi dan merevitalisasi pesisir Pantura Jawa,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengembangan karbon biru juga terarah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. “Yang ketiga, pastinya meningkatkan ekonomi masyarakat pesisir dalam pengembangan karbon biru itu,” katanya.
Terkait pembiayaan, Amehr menyebut skema pendanaan masih akan ada pembahasan lebih lanjut setelah penetapan lokasi. Namun, program ini ia pastikan melibatkan berbagai pihak.
“Yang pasti melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku usaha. Makanya tadi kami undang kawasan industri dan pelaku-pelaku usaha yang membutuhkan. Nanti kita diskusikan sharing pembiayaannya seperti apa, termasuk pendapatan dari karbon birunya,” jelasnya.
Ia menegaskan belum menentukan porsi pendanaan dari APBN maupun sumber lain dan masih menunggu kajian lanjutan.
“Kalau porsinya berapa persen dari APBN itu belum. Urutannya kita identifikasi lokasi, sosialisasi ke masyarakat, baru nanti dibicarakan pembiayaannya,” ujarnya.
Pilot Project Target Mulai 2026, Lokasi di Semarang dan Demak
Lebih jauh, KKP menargetkan implementasi awal pengembangan karbon biru di Jawa Tengah dimulai pada 2026 melalui skema proyek percontohan.
“Tahun ini sebenarnya sudah mulai pilot project. Tidak langsung di semua lokasi. Kami diskusikan dengan pemerintah daerah mana lokasi yang paling cocok,” kata Amehr.
Ia menyebut beberapa wilayah telah masuk dalam target awal proyek percontohan. “Sementara yang kami targetkan itu di daerah Batang dan di sekitar Semarang-Demak untuk lokasi pilot awal,” pungkasnya.
Berdasarkan data pemetaan lokasi, wilayah Batang tercatat memiliki potensi mangrove seluas sekitar 225,70 hektare, sementara Kota Semarang sekitar 337,47 hektare dan Kabupaten Demak mencapai 3.485,94 hektare, yang menjadikannya salah satu kawasan potensial dalam pengembangan karbon biru di Jawa Tengah. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





