SEMARANG, beritajateng.tv – Davin Muhammad Abimantrana, salah satu siswa SMAN 1 Semarang yang memiliki kesempatan untuk mewakili Indonesia di kancah internasional.
Ia lolos program Bina Antar Budaya 2023 dan berkesempatan menempuh pendidikan pada tahun 2024 di Italia selama 10 bulan.
Davin, sapaan akrabnya, bersekolah di Liceo Scientifico G. Marconi Lussu yang berada di San Gavino Monreale, Sardegna, Italia.
Selama masa program, Davin tidak hanya belajar di sekolah Italia, tetapi juga aktif memperkenalkan budaya dan identitas Indonesia kepada masyarakat setempat.
“Di sana saya banyak presentasi di sekolah. Ternyata banyak yang belum tahu Indonesia ada di mana. Jadi saya cerita tentang negara, budaya, sampai kota Semarang tempat saya tinggal,” ujar Davin saat beritajateng jumpai di sekolah pada Senin, 25 Agustus 2025.
BACA JUGA: Jembatani Diplomasi Budaya, SMAN 1 Semarang Sambut Siswa Italia Lewat Program Pertukaran Pelajar
Salah satu hal yang sering ia ceritakan kepada warga Italia adalah perbedaan jumlah penduduk.
“Kota Semarang penduduknya 2 juta, sementara kota tempat saya tinggal di Italia bahkan tidak sampai 50 ribu. Satu pulau di Italia pun tidak sampai 3 juta orang. Mereka kaget sekali waktu saya jelaskan,” katanya.
Jadi duta budaya lewat Batik dan Baju Adat
Dalam setiap presentasi, Davin selalu membawa batik dan pakaian adat dari Indonesia. Hal ini menjadi cara unik memperkenalkan budaya Nusantara.
“Biasanya saya mulai presentasi dengan tebak-tebakan, asal saya dari mana. Banyak yang menebak saya dari Asia Timur. Setelah itu baru saya kenalkan Indonesia sambil memakai batik,” jelasnya.
Meski mendapat pelatihan singkat, Davin mengaku hampir tidak bisa bahasa Italia saat pertama tiba. Hal ini membuat dua bulan pertama menjadi masa paling sulit.
“Stresnya luar biasa, karena belum bisa bahasa dan tidak banyak orang di sana yang bisa bahasa Inggris. Tapi teman-teman sekolah sangat ramah, mereka langsung menyapa dan mau mengenal saya,” ungkapnya.
Selain bahasa, perbedaan terbesar yang ia rasakan adalah jam makan malam. Di Italia, makan malam bisa dimulai pukul 9 malam dan berakhir hingga tengah malam. “Buat saya itu culture shock banget, soalnya jam tidur jadi kacau,” lanjutnya.
Ikhlas tinggal kelas demi pengalaman berharga
Mengikuti pertukaran pelajar berarti Davin harus mengulang kelas di Indonesia. Seharusnya, saat ini ia duduk di kelas XII, namun ia kembali di kelas XI. Meski begitu, Davin mengaku tidak menyesal.
“Sejak awal saya sudah diberitahu kemungkinan tinggal kelas. Tapi saya pikir, pengalaman setahun di Italia ini sangat berharga dan tidak semua orang bisa merasakannya. Jadi worth it banget,” ujarnya.
BACA JUGA: Sempat Bikin Geger PPDB 2024, SMAN 1 Semarang Tak Ingin Kasus Piagam Palsu Terulang di SPMB 2025
Program Bina Antar Budaya bersifat self-funded. Davin mendapat bantuan sponsor dari berbagai pihak untuk menutupi biaya hidup sekitar Rp100 juta selama setahun. Meski penuh tantangan, orang tua Davin tetap memberi dukungan penuh.
“Orang tua saya malah mendorong agar saya ambil kesempatan ini. Mereka ingin saya berani mencoba pengalaman baru,” pungkasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





