Gaya Hidup

Kenang Satu Abad Pramoedya Ananta Toer, Anak Muda Semarang Hias 100 Topeng dari Koran Bekas

×

Kenang Satu Abad Pramoedya Ananta Toer, Anak Muda Semarang Hias 100 Topeng dari Koran Bekas

Sebarkan artikel ini
Topeng Koran
Sejumlah anak muda saat melukis dalam acara “100 Topeng untuk Pram” di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, Minggu, 8 Desember 2024. (Fadia Haris Nur Salsabila/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Belasan anak muda berkumpul dan sibuk menghias topeng yang terbuat dari koran bekas. Mereka melukis, mewarnai, atau menuliskan sesuatu pada topeng-topeng tersebut.

Kegiatan ini merupakan bagian dari acara “Menghias 100 Topeng untuk Pram” sebuah upaya mengenang 100 tahun pengarang kenamaan Pramoedya Ananta Toer, yang berlangsung di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, Minggu, 8 Desember 2024.

Ketua Dewan Kesenian Semarang, Adhitia Armitrianto, menjelaskan bahwa acara ini adalah kick off atau langkah awal dari rangkaian kegiatan untuk memperingati satu abad Pramoedya. Jumlah 100 topeng pun terpilih secara simbolis sesuai dengan usia peringatan tersebut.

Sementara itu, topeng yang dihias juga terbuat dari bahan sederhana namun bermakna, yakni koran bekas.

“Kami memang telah rutin memperingati Hari Hak Asasi Manusia setiap 10 Desember. Kebetulan tahun depan juga ada peringatan 100 tahun Pramoedya Ananta Toer, yang merupakan salah satu korban pelanggaran HAM di masa lalu,” ujar Adhitia kepada beritajateng.tv di sela kegiatan.

BACA JUGA: Mengenang Perjalanan Nh Dini dari Rumah Masa Kecil di Kampung Sekayu Semarang

Adhit menyebut, ada keunikan tersendiri dalam kegiatan ini. Biasanya, seni lukis dilakukan di atas kanvas atau media lain seperti tas. Namun kali ini, topeng terpilih sebagai medium ekspresi seni. Menurut Adhit, pemilihan topeng sebagai medium bukanlah tanpa alasan.

“Kenapa topeng? Topeng ini kalau dibicarakan secara idealisnya selama ini kita mungkin memakai topeng, apalagi dalam kasus HAM, bagaimana semuanya hidup dengan kepalsuan,” jelasnya.

Dalam kegiatan ini, peserta mendapat kebebasan penuh untuk berkreasi. Beberapa menghias topeng dengan cat warna, sementara yang lain menuliskan judul-judul buku karya Pramoedya, seperti Bumi Manusia atau Rumah Kaca.

Harapannya, kata Adhit, kegiatan ini dapat menjadi cara kreatif untuk mengingat perjuangan dan pengorbanan Pramoedya melalui karya-karyanya.

“Dengan menghias topeng ini, harapannya peserta bisa mengenang perjuangan Pramoedya dan menyampaikan kesan mereka terhadap sosok beliau,” tambah Adhit.

Mengenalkan Pramoedya kepada generasi muda

Lebih lanjut, Adhit juga menyoroti tantangan untuk mengenalkan karya-karya Pramoedya kepada generasi muda. Salah satu upaya yang mendapat perhatian adalah adaptasi film “Bumi Manusia” beberapa tahun lalu.

Film tersebut sempat menuai kontroversi, terutama terkait pemilihan Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan sebagai pemeran utama. Namun, menurut Adhit, hal itu justru membuka jalan bagi generasi muda untuk lebih mengenal karya-karya Pramoedya.

“Selama ini, yang membaca Pramoedya itu sedikit, biasanya mahasiswa sastra saja. Tapi setelah ada film itu, banyak anak muda yang penasaran dan mulai membaca karyanya. Ternyata ada penulis hebat seperti Pramoedya,” ujarnya.

BACA JUGA: Kenang Sastrawan Prancis Kontroversial, AF Semarang dan Dekase Bincangkan Sosok dan Karya Milan Kundera

Ia pun berharap, momentum 100 Tahun Pramoedya dapat menjadi titik balik pengenalan Pramoedya kepada generasi muda.

“[Karya] Pramoedya merupakan salah satu buku wajib baca bagi generasi muda. Tinggal bagaimana akses mereka ke buku-buku itu. Saya kira ini tugas pemerintah untuk memberikan kemudahan akses itu,” tandasnya. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp