SEMARANG, beritajateng.tv – Suasana campur aduk terlihat saat gelaran pemberian vaksin di SD Negeri Pekunden pada Senin, 13 November 2023. Siswa-siswa SD tersebut menunjukkan beragam reaksi terhadap jarum suntik, tak jarang ada yang menangis atau merengek ketakutan.
Beberapa siswa SD Negeri Pekunden menunjukkan ketakutan dan bahkan ada yang berteriak saat jarum suntik diarahkan ke lengan mereka. Salah satunya Fairuz Isdihar Qurunul Bahri Ramadhan, siswa kelas 1. Ia terlihat meringis kesakitan ketika jarum suntik menyentuh lengannya.
Namun, setelah proses vaksinasi selesai, siswa SD Negeri Pekunden itu malah merasa malu dan tertawa bersama teman-temannya.
“Tadi memang takut sama jarumnya, sebelum disuntik rasanya udah sakit duluan,” katanya.
Reaksi cemas juga terlihat pada siswa SD Negeri Pekunden lainnya. Meski demikian, suasana tetap ceria karena ada siswa yang bersorak dan menertawakan reaksi teman-teman mereka.
BACA JUGA: Pemkot Semarang Jadikan Hari Kesehatan Nasional Momentum Tingkatkan Pelayanan Publik
Meskipun reaksi siswa beragam, Kepala SD Negeri Pekunden, Abdul Khalik memastikan tidak ada satupun siswa yang berusaha kabur atau sembunyi untuk menghindari imunisasi dalam rangka Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) tersebut.
“Tidak ada kendala karena mayoritas anak-anak yang suntik hari ini sudah pernah suntik di imunisasi pertama. Kalau nangis ada satu dua, histeris teriak tapi nggak ada suaranya itu banyak,” katanya.
Lebih lanjut, Khalik menjelaskan bahwa kegiatan vaksinasi kali ini merupakan kerjasama antara pihaknya dengan Puskesmas Miroto. Adapun BIAS sendiri memang menyasar anak-anak produktif usia sekolah dasar, salah satunya di SD Negeri Pekunden.
Pemberian vaksin untuk siswa SD Negeri Pekunden sebanyak dua kali dalam setahun
Sebanyak 168 siswa SD Negeri Pekunden mengikuti imunisasi ini. Hanya saja, beberapa siswa berhalangan hadir lantaran beberapa alasan seperti panas tinggi, demam, sesak nafas, dan dalam masa pemulihan obat.
“Target kali ini adalah pemberian vaksin Tetanus Difteri (TD) bagi kelas dua dan lima, serta pemberian vaksin Difteri Tetanus (DT) untuk kelas satu,” katanya kepada beritajateng.tv.
Lebih lanjut, pemberian vaksin tersebut dilakukan sebanyak dua kali dalam setahun. Tujuannya adalah untuk memberikan perlindungan serta lanjutan atau booster agar siswa semakin kebal dengan penyakit difteri dan tetanus.
BACA JUGA: Kasus Cacar Monyet Melonjak di Indonesia, Satgas MPox PB IDI Imbau Waspadai Gejala Ini
Selain pemberian vaksin, para siswa turut mendapatkan edukasi seputar kesehatan. Sebelum disuntik misalnya. Para petugas melakukan proses screening berat badan, tinggi badan serta kondisi kesehatan siswa. Di sisi lain, para siswa juga sebelumnya telah mendapat vaksin MR (Measles) Rubella dan vaksin human papillomavirus (HPV) pada Agustus silam.
“Harapan kami seluruh anak-anak setelah suntik DT dan TD menjadi anak-anak yang sehat dan kebal terhadap tetanus dan difteri,” tandasnya.(*)
Editor: Farah Nazila





