SEMARANG, beritajateng.tv – Berikut teks khutbah Jumat edisi 1 Mei 2026 atau bertepatan dengan bulan Dzulqa’dah 1447 H mengangkat tema penting mengenai etos kerja dalam perspektif Islam.
Tema khutbah Jumat 1 Mei 2026 yang menyentuh hati ini juga menekankan bahwa dalam ajaran Islam, bekerja bukan sekadar mencari nafkah, melainkan sebuah bentuk ibadah yang menuntut semangat serta tanggung jawab penuh dari setiap Muslim.
Karena itu, Islam mendorong umatnya untuk bekerja agar menjadi manusia mulia dan mandiri serta tidak membebani orang lain.
BACA JUGA: Teks Khutbah Jumat 10 April 2026: Momentum Akhir Bulan Syawal untuk Meningkatkan Iman
Berikut teks khutbah Jumat 1 Mei 2026 singkat menyambut Hari Buruh yang ditulis Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta seperti dilansir dari NU Online.
Teks Khutbah Jumat 1 Mei 2026 Singkat Terbaru
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ القَوِيِّ الْمَجِيْدِ. اَلْمُدَبِّرِ لِخَلْقِهِ كَمَا يَشَاءُ وَهُوَ الْفَعّالُ لِمَا يُرِيدُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ لَا إلَهَ اِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَاشِرِيْكَ لَهُ الْوَلِيُّ الْحَمِيْدُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه ذُو الرَّشَادِ وَالتَّسْدِيْدِ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسّلِّمْ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ هُمْ نِعْمَ العَبِيْدُ, وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِالْإِحْسِانِ وَالتَّسْدِيْدِ.
أَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللَّهِ, إِتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ بِفِعْلِ المَأمُوْرَاتِ وَاجْتِنَابِ المُحَرَّمَاتِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Setiap tanggal 1 Mei, dunia memperingati Hari Buruh atau yang dikenal dengan “May Day”. Buruh merupakan bagian penting dalam kehidupan sosial, karena keberadaan mereka tidak terpisahkan dari para majikan. Keduanya saling melengkapi dalam sistem kehidupan. Islam sendiri memberikan perhatian besar terhadap persoalan perburuhan.
Dalam Al-Qur’an, terdapat sejumlah ayat yang membahas tentang kaum lemah (mustadl’afin), yang salah satunya dapat kita pahami sebagai para buruh. Selain itu, hadits Nabi Muhammad SAW juga banyak mengatur tentang hak-hak mereka.
Sidang Jum’ah rahimakumullah, istilah mustadh’afiin merujuk pada kelompok masyarakat yang lemah, baik secara ekonomi, sosial, maupun politik. Mereka memiliki ketergantungan tinggi terhadap pihak lain dalam menjalani kehidupan.
Dalam perspektif fikih, kelompok ini termasuk fakir miskin yang sebagian besar bekerja sebagai buruh. Mereka berhak menerima zakat sebagaimana yang tertulis dalam Surah At-Taubah ayat 60:
إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
Artinya: “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus zakat, para mu’allaf, untuk memerdekakan budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah, dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai ketetapan dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
Ayat ini menegaskan bahwa buruh yang tergolong fakir miskin memiliki hak sosial yang harus terpenuhi. Bahkan, mereka menjadi prioritas utama dalam distribusi zakat.
Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda:
ثلاثَةٌ أَنَا خَصْمُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَجُلٌ أَعْطَى بِي ثُمَّ غَدَرَ وَرَجُلٌ بَاعَ حُرًّا فَأَكَلَ ثَمَنَهُ وَرَجُلٌ اسْتَأْجَرَ أَجِيرًا فَاسْتَوْفَى مِنْهُ وَلَمْ يُعْطِهِ أَجْرَهُ
Artinya: “Ada tiga golongan yang akan menjadi musuh-Ku pada hari kiamat: orang yang berjanji lalu mengingkari, orang yang menjual manusia merdeka dan memakan hasilnya, serta orang yang mempekerjakan buruh tetapi tidak membayar upahnya.” (HR. Ibnu Majah)
BACA JUGA: Khutbah Jumat 17 April 2026 Menyentuh Hati: Akhir Syawal dan Sambut Dzulqa’dah
Hadits ini menunjukkan betapa Islam mengecam keras praktik ketidakadilan terhadap buruh, termasuk tidak membayar upah atau memberikan bayaran yang tidak layak.
Demikian khutbah Jumat ini disampaikan. Semoga kita dapat mengambil pelajaran bahwa bekerja dan mencari nafkah bukan hanya urusan dunia, tetapi juga bagian dari ibadah untuk meraih keberkahan hidup di dunia dan akhirat. Aamiin ya rabbal ‘alamin. (*)





