BLORA, beritajateng.tv – Mbah Sani, seorang lansia berusia 94 tahun, kini hidup sebatang kara dan bertempat tinggal di belakang rumah dinas Bupati Blora, Jawa Tengah.
Selepas anaknya meninggal dunia sebulan yang lalu, Mbah Sani hanya bisa berbaring dan duduk di tempat tidur lantaran tak bisa berjalan.
Persisnya, ia sendiri tinggal di RT 01 RW 01 Kelurahan Kunden, Kecamatan Blora. Selama ini Mbah Sani mengalami kesulitan berkomunikasi untuk meminta bantuan tetangganya karena tak bisa mengoperasikan telepon genggam.
BACA JUGA: Ratusan Kepala Desa di Blora Terima SK Perpanjangan Jabatan dari Bupati: Tambah 2 Tahun
Melihat kondisinya yang seperti itu, Istri Bupati Blora, Ainia Salichah Arief Rohman, memberikan kentongan agar Mbah Sani bisa memukul kentongan tersebut saat membutuhkan pertolongan.
“Ini ada kentongan, Mbah, nanti dipukul-pukul kalau ada sesuatu, butuh sesuatu. Biar Pak RT dan tetangga tahu,” ujar Bunda Ain, sapaan akrabnya, Selasa, 25 Juni 2024.
Tak hanya kentongan, Mbah Sani Blora juga beroleh bantuan
Selain mengasih kentongan, Ainia Salichah juga melakukan pemeriksaan kesehatan dan memberi bantuan sembako serta uang tunai untuk kebutuhan sehari-hari Mbah Sani.
“Nitip, Pak RT, Pak Lurah. Nanti kalau ada apa-apa kabari, ya. Tadi sudah diperiksa kesehatnya juga, sehat, ya, Pak Lurah,” imbuh Bunda Ain.
Tak hanya menengok Mbah Sani, Bunda Ain dan rombongan ibu-ibu Tim Penggerak PKK Kabupaten juga menengok balita yang mengalami stunting di sekitar rumah Mbah Sani.
Khoirurrozikin, Ketua RT setempat, mengucapkan terima kasih atas bantuan pemberian Ketua Penggerak PKK Kabupaten dalam rangka Hari Kesatuan Gerak PKK 2024.
BACA JUGA: Usai Pelantikan, Petugas Pantarlih di Blora Gas Pol Datangi Tokoh Masyarakat
“Kami selaku RT mengucapkan terima kasih atas bantuan Bu Bupati, Pak Lurah Kunden, kepada warga kami. Semoga berkah, Bunda,” ucap Khoirurozikin.
Khoirurrozikin berjanji akan menjaga dan merawat Mbah Sani bersama warga sekitar. Meskipun terkadang cucu Mbah Sani datang menjenguk, namun jarak rumah mereka yang jauh cukup menyulitkan.
Saat ini, Mbah Sani hidup sebatang kara dan membutuhkan uluran tangan dari para tetangga untuk menyambung hidupnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





