Jateng

Kota Semarang Tetap Kekeringan Meski Diguyur Hujan, Pakar Ungkap Solusinya

×

Kota Semarang Tetap Kekeringan Meski Diguyur Hujan, Pakar Ungkap Solusinya

Sebarkan artikel ini
BPBD Jateng Air | Kekeringan Jawa Tengah | BMKG Kekeringan | ilustrasi kekeringan | Bencana Kekeringan
Ilustrasi kekeringan. (Foto: Pexels/Pixabay)

SEMARANG, beritajateng.tv – Beberapa hari terakhir, hujan dengan intensitas ringan turun secara berkala di beberapa wilayah di Kota Semarang. Meski demikian, masih terdapat beberapa wilayah yang terdampak kekeringan.

Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, beberapa wilayah masih mengalami kekeringan meskipun telah turun hujan. Hal tersebut lantaran intensitas hujan tidak begitu berpengaruh pada ketersediaan air bersih. Terlebih, curah hujan saat ini masih tergolong ringan.

Menanggapi hal tersebut, Dr FL. Budi Setiawan, Kepala Program Doktor Ilmu Lingkungan (PDIL) Soegijapranata Catholic University (SCU) mengatakan, cuaca panas ekstrem memang sedang melanda berbagai negara di seluruh dunia. Menurutnya, panas ekstrem tersebut disebabkan oleh fenomena El Nino dan El Nina.

Lebih lanjut, ia menyebut salah satu dampak dari cuaca panas ekstrem adalah kekeringan yang melanda beberapa wilayah di berbagai negara. Tak terkecuali Kota Semarang.

Selain itu, cuaca panas ekstrem juga menyebabkan angka curah hujan cenderung menurun. Dua hal inilah yang menjadi faktor semakin parahnya krisis air di Indonesia secara umum.

BACA JUGA: 1.382 Desa di Jateng Masih Kekeringan Jelang Musim Hujan, Pemprov Salurkan 76 Juta Liter Air Bersih

“Pertumbuhan populasi dan perubahan iklim menambah tekanan pada terbatasnya pasokan air,” tambah Budi.

“Tren penurunan kapasitas air terjadi akibat pendangkalan,” imbuh Budi.

Mendaur ulang air adalah solusi masalah kekeringan di Kota Semarang

Untuk mengatasi masalah kekeringan yang belum jelas kapan berakhir, Budi menilai pentingnya membuat program penghematan air. Salah satunya yaitu dengan memaksimalkan teknologi untuk mendaur ulang air.

Ia menyatakan pentingnya pemanfaatan teknologi sebagai solusi dalam mengantisipasi ancaman krisis air yang mungkin terjadi di masa depan. Ia juga menganggap pentingnya konservasi sebagai upaya pengelolaan air agar penggunaannya tetap efisien.

Lebih lanjut, Budi turut menuturkan bahwa pembuangan limbah industri ke sungai tanpa ada pengolahan terlebih dulu juga menambah faktor pendukung terjadinya krisis air di Indonesia. Oleh karena itu, ia menghimbau pelaku industri untuk mengelola limbahnya secara mandiri.

“Gerakan mengumpulkan dan mengelola limbah, serta perilaku tidak membuang sampah atau limbah ke sungai juga patut diapresiasi,” ucapnya.

BACA JUGA: Bendung Gerak Karangnongko Diharapkan Cegah Kekeringan di Blora Selatan

Seperti yang diberitakan sebelumnya, pada bulan September kemarin terdapat empat kecamatan di Kota Semarang yang terdampak kekeringan akibat musim kemarau yang berkepanjangan. Keempat kecamatan itu yakni Banyumanik, Tembalang, Ngaliyan, dan Gunungpati.

Dari keempat kecamatan di Kota Semarang itu, yang paling parah mengalami kekeringan adalah Banyumanik, Tembalang, dan Ngaliyan.(*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp