BLORA, beritajateng.tv – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Blora menuding air limbah rumah tangga sebagai salah satu faktor penyebab fenomena tanah ambles yang terjadi di wilayah Blora. Kabarnya, peristiwa tersebut telah berlangsung lebih dari lima bulan terakhir.
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) DPUPR Blora, Surat, mengatakan pihaknya telah menyampaikan sejumlah imbauan kepada warga terkait pengelolaan air limbah rumah tangga yang dibuang setiap hari.
“Air limbah dari aktivitas mandi, mencuci, hingga kebutuhan sehari-hari perlu ada pengelolaannya dengan baik. Jangan sampai meresap langsung ke tanah dan memperparah kondisi,” ujar Surat, Rabu, 7 Januari 2025.
Selain limbah cair, DPUPR Blora juga menyoroti persoalan sampah yang ternilai turut memengaruhi stabilitas tanah. Surat menegaskan, kejadian tanah ambles ini merupakan kondisi kebencanaan dan kedaruratan wilayah, sehingga membutuhkan kolaborasi semua pihak sesuai kapasitas dan kewenangan masing-masing.
BACA JUGA: Sepuluh Kepala Daerah Terpilih Berlanjut Presentasi Anugrah Kebudayaan PWI Pusat, Bupati Blora Siap
Meski demikian, warga diminta tidak panik, namun tetap bersiaga. DPUPR Blora mengimbau warga yang tinggal di sekitar lokasi terdampak untuk siap mengungsi apabila terjadi pergerakan tanah yang membahayakan keselamatan.
“Hasil peninjauan lokasi menunjukkan perlu adanya perbaikan di beberapa titik. Terutama di sekitar aliran Sungai Lusi, agar fenomena tanah bergerak atau glincir tanah bisa dihentikan,” jelasnya.
Menurut Surat, penanganan akan berfokus pada penguatan struktur tanah di bagian bawah, kemudian lanjut dengan penataan alur air di permukaan agar aliran air tidak merembes ke dalam tanah secara langsung.
“Harapannya, kalau bagian bawah sudah stabil, yang di atas bisa kita tata alur airnya supaya tidak merembes ke mana-mana,” tambahnya.





