Opini

Media Sosial dan Tantangan Literasi Informasi dalam Kehidupan Sehari-hari

×

Media Sosial dan Tantangan Literasi Informasi dalam Kehidupan Sehari-hari

Sebarkan artikel ini
Farra Dian Septina, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro. (Dok.) media sosial
Farra Dian Septina, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro. (Dok.)

Manuel Castells dalam Communication Power (2009) menjelaskan bahwa masyarakat modern hidup dalam jaringan informasi yang bergerak sangat cepat. Satu unggahan dapat menyebar ke banyak orang hanya dalam hitungan detik. Namun, kecepatan ini sering kali tidak diimbangi dengan kebiasaan memeriksa kebenaran informasi. Akibatnya, hoaks dan informasi menyesatkan mudah dipercaya dan dibagikan.

Contoh informasi hoaks dan menyesatkan yang sering muncul di media sosial antara lain berita palsu mengenai kebijakan pemerintah yang sebenarnya tidak pernah dikeluarkan, informasi kesehatan tentang obat atau metode penyembuhan instan tanpa dasar ilmiah, serta potongan video atau kutipan yang dilepaskan dari konteks aslinya. Selain itu, judul sensasional atau clickbait yang tidak sesuai dengan isi konten juga kerap menyesatkan audiens.

Hal ini sejalan dengan pendapat Denis McQuail dalam Mass Communication Theory (2010) yang menyatakan bahwa media sangat berpengaruh terhadap cara berpikir dan bersikap masyarakat. Di media sosial, pengaruh tersebut semakin kuat karena setiap individu dapat berperan sebagai “media” bagi orang lain. Opini pribadi yang disebarkan secara masif dapat dengan cepat berubah menjadi kebenaran versi publik.

Jika ditinjau melalui Teori Agenda Setting oleh McCombs dan Shaw, media memiliki kekuatan untuk menentukan isu apa yang dianggap penting. Dalam media sosial, isu yang dianggap penting sering kali bukan yang paling berdampak, melainkan yang paling viral. Akibatnya, isu-isu serius dapat tenggelam oleh konten sensasional yang kurang memiliki nilai substansial.

Selain itu, Jürgen Habermas melalui Teori Tindakan Komunikatif menekankan bahwa komunikasi ideal seharusnya dilakukan secara rasional, jujur, dan saling menghargai. Namun, praktik komunikasi di media sosial sering kali dipenuhi emosi, sindiran, dan serangan personal. Oleh karena itu, diperlukan upaya menangkal informasi hoaks dan menyesatkan dengan cara meningkatkan literasi media, memeriksa sumber informasi, membandingkan dengan media mainstream terpercaya, serta tidak langsung menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.