Kesehatan

Mengapa Darah di PMI Mahal? Begini Penjelasannya

×

Mengapa Darah di PMI Mahal? Begini Penjelasannya

Sebarkan artikel ini
Darah PMI Mahal
Foto bersama media Gatering PMI cabang Blora dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan sejumlah media menjelaskan terkait alasan darah PMI yang dinilai mahal di Blora, Kamis 30 November 2023. (Hery P/beritajateng.tv)

BLORA, beritajateng.tv – Mengapa darah di PMI mahal? Hal ini kerap menjadi pertanyaan masyarakat. Pasien di sebuah rumah sakit yang membutuhkan darah, biasanya wajib membayar perkantong darah ratusan ribu rupiah.

Padahal darah tersebut oleh pendonor melalui Palang Merah Indonesia (PMI) gratis, hanya menggantinya dengan satu kotak susu, roti gandum dan snak ringan lainnya. Mengapa?

Melalui media Gatering PMI cabang Blora dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan sejumlah media di Blora, Kamis kemarin. Kepala Unit Donor Darah (UDD) PMI dr. Imba Wahyu Ginandra menjelaskan mahalnya perawatan darah.

Ada biaya-biaya yang harus PMI keluarkan supaya darah segar dari pendonor berguna bagi pasien yang membutuhkan darah itu.

“Darah dari pendonor, itu tidak bisa langsung kita gunakan. Perlu pemeriksaan dan sterilisasi dan lain – lain. Namanya Biaya Pengganti Pengolahan Darah (BPPD),” ujar dr. Imba, Kamis 30 November 2023 kemarin.

Biaya itu, kata dr. Imba, diatur berdasarkan Peraturan Mentri Kesehatan (Permenkes) Nomor 83 Tahun 2014 Pasal 52. Bahwa biaya penggantian pengolahan darah di Bank Darah Rumas Sakit (BDRS) merupakan biaya yang menjadi beban masyarakat. Atas penyelenggaraan kegiatan pengolahan darah dari UDD PMI.

“Untuk biaya penyelenggaraan pelayanan darah di BDRS itu, di tetapkan oleh Kepala / Direktur Rumah Sakit,” jelas dr. Imba.

Penjelasan Biaya Darah PMI Mahal

Sedangkan biaya Penggantian Pengolahan Darah tersebut paling tinggi 50 persen dari biaya penggantian pengolahan darah perkantong dari UDD PMI.

Menurut dr. Imba, di UDD PMI sendiri untuk kantong darah itu biayanya cukup tinggi. Tenaga ahlinya harus pelatihan dulu.

“Sertifikasinya mahal, dan lemari penyimpanan darah yang sudah kita sterilkan itu biaya perawatannya juga tidak murah. Jadi yang mereka bayar itu bukan darahnya tapi BPPDnya,” imbuh dr. Imba

Sedikit informasi bahwa per tanggal 15 Agustus 2023 kemarin, biaya BPPD darah perkantong naik menjadi Rp. 450. 000.

Untuk stok darah di UDD PMI Blora, sampai dengan saat ini, menurut dr. Imba masih cukup.

Sementara Ketua PWI Blora Heri Purnomo mengatakan selama menjadi Wartawan baru kali ini, PWI mendapat kehormatan bersilaturahmi dengan PMI.

Heri berharap tali silahturahmi ini, bisa menjadikan mitra untuk menginformasikan. Atau mempublikasikan kegiatan PMI agar lebih masyarakat luas kenal melalui media.

“Suatu kehormatan bagi kami bisa bersanding dengan PMI, sinergitas PMI dan PWI. Semoga bisa membantu PMI Blora untuk lebih dekat dengan masyarakat Blora, ” ungkap Heri.

Menurut Heri, bahwa banyak organisasi Pers di Indonesia, namun yang terferivikasi Dewan Pers ada 4.

Yakni Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), dan Pewarta Foto Indonesia (PFI).

“Namun di Kabupaten Blora, baru ada satu Organisasi Pers, yaitu PWI. Jadi jangan salah, saya ini ketua PWI bukan ketua Wartawan,” Tutup Heri. (*)

Editor: Elly Amaliyah

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp