Feature

Potret Seniman Kaligrafi India Gori Yusuf Husen, Wariskan Teknik Klasik ke Penjuru Dunia

×

Potret Seniman Kaligrafi India Gori Yusuf Husen, Wariskan Teknik Klasik ke Penjuru Dunia

Sebarkan artikel ini
Kaligrafi Klasik Gori Yusuf Husen
Seniman asal India, Gori Yusuf Husen saat menjelaskan tentang karya kaligrafinya yang dipamerkan di lantai dasar Mal Ciputra Semarang. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

Menurut Gori Yusuf Husen, penggunaan bahan alami merupakan bagian dari teknik yang telah digunakan para seniman pada masa lalu. Teknik tersebut menjadi salah satu pengetahuan yang ingin dia pertahankan.

BACA JUGA: Kemeriahan Ojo Dumeh Fest Putaran ke-11 di Candirejo Semarang, Kolaborasi Campursari dan Kesenian Tradisional

“Teknik ini sudah dilakukan oleh para maestro 300 sampai 400 tahun lalu,” ucapnya.

Gradasi warna cokelat dan hitam yang muncul dalam karya-karyanya menjadi salah satu detail yang dapat dilihat langsung oleh pengunjung pameran.

Baginya, pameran di Kota Semarang juga bukan hanya mengenai keindahan visual. Dia juga ingin pengunjung mendapatkan pengetahuan mengenai proses, bahan, serta sejarah di balik seni kaligrafi.

Tak Ingin Karya Terikat Pasar

Pandangan Gori Yusuf Husen terhadap seni juga terlihat dari keputusannya untuk tidak menjadikan penjualan sebagai tujuan utama berkarya.

Ketika ditanya apakah karya yang dipamerkan dijual kepada pengunjung, ia tersenyum dan menggeleng.

“Bagaimana mungkin saya menjualnya? Bagi saya, menjual karya sendiri itu rasanya seperti seorang ibu yang menjual anaknya. Ketika Anda melukis hanya untuk menjualnya, cinta dan kebebasan Anda dalam berkarya akan terbatasi oleh keinginan pasar. Karya itu jadi tidak pernah benar-benar selesai,” katanya.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus membiayai aktivitas seninya, dia mengandalkan usaha di luar dunia seni. Dengan cara tersebut, ia merasa memiliki kebebasan untuk berkarya tanpa harus menyesuaikan hasil karyanya dengan permintaan pasar.

Dari sekitar 250 karya yang telah dibuatnya, lebih dari 100 karya di antaranya telah diberikan secara cuma-cuma kepada museum, kementerian kebudayaan, maupun kolektor di berbagai negara.

Akan tetapi, pemberian tersebut disertai satu syarat. Karya-karya itu harus dirawat dan dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi bagi generasi muda.

Bagi Gori Yusuf Husen, nilai sebuah karya tidak berhenti pada benda fisiknya. Pengetahuan dan teknik yang ada di balik karya tersebut juga harus tetap hidup dan diteruskan.