SEMARANG, beritajateng.tv – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah berjanji akan membuat jembatan darurat untuk ratusan warga Kampung Tambaksari, Kelurahan Mangkang Wetan dan Kelurahan Mangunharjo di Kecamatan Tugu, Kota Semarang, yang terisolasi setelah jembatan yang menjadi satu-satunya akses penghubung roboh diterjang arus deras Sungai Beringin.
Diketahui, jembatan yang menjadi akses warga itu sudah hampir dua pekan roboh, sejak Kamis, 15 Januari 2026 lalu.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen alias Gus Yasin berjanji akan segera menangani pembangunan jembatan darurat bagi warga Tambaksari tersebut. Hal itu ia ungkap saat beritajateng.tv jumpai di PO Hotel, Kota Semarang, Kamis, 29 Januari 2026.
“Oke, nanti saya lihat ya. Nanti biar segera kita tangani untuk jembatan daruratnya,” ujar Gus Yasin.
Sebelumnya, Ketua DPRD Kota Semarang Kadarlusman mengungkap bahwa jembatan itu merupakan wewenang Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).
BACA JUGA: Gelondongan Kayu Terbawa Banjir Bandang di Kaki Gunung Slamet, Pemprov Jateng Duga dari Hutan Rakyat
Namun, Gus Yasin menyebut warga yang terdampak juga merupakan warga Jawa Tengah yang menjadi tanggung jawabnya.
“Kan warga kita, sama saja. Nanti biar kita tangani, yang mana yang lebih cepat,” pungkas Gus Yasin.
Legislator Semarang desak pembangunan jembatan darurat secepatnya
Sebelumnya, Ketua DPRD Kota Semarang, Kadar Lusman alias Pilus, meminta Pemkot Semarang segera berkoordinasi dengan BBWS Pemali Juanan untuk membangun jembatan darurat di RW 7 Kelurahan Mangkang Wetan.
Permintaan tersebut menyusul robohnya jembatan penghubung antarwarga akibat derasnya aliran Sungai Beringin pada Kamis, 15 Januari 2026. Hingga kini, akses utama warga terputus total dan membuat kawasan tersebut terisolasi.
“Sampai saat ini masih terisolir ya, warga harus pakai getek untuk beraktivitas, seperti bekerja, sekolah, dan lainnya. Sekali jalan itu Rp 2 ribu,” kata Kadar Lusman, Senin, 19 Januari 2026.
Ia menuturkan, RW 7 Kelurahan Mangkang Wetan terdiri dari RT 4 dan RT 5 yang terpisah langsung oleh Sungai Beringin. Jembatan yang roboh merupakan satu-satunya akses warga menuju jalan utama ke arah Kelurahan Mangunharjo maupun Mangkang Wetan. Warga terdampak, perkiraan mencapai 150 hingga 200 kepala keluarga.
Pilus menilai kondisi tersebut berisiko tinggi, terutama karena curah hujan masih berlangsung. Warga yang menyeberang menggunakan perahu berpotensi terdampak banjir susulan maupun limpasan air dari hulu sungai.
Ia menegaskan, pembangunan jembatan darurat menjadi kebutuhan mendesak agar aktivitas warga kembali berjalan normal sembari menunggu pembangunan jembatan permanen.
“Saat ini masih musim hujan, takutnya ada limpasan air dari atas. Ini kan malah berbahaya. Yang ditugaskan dari pusat kan BBWS ya, harapannya ada solusi agar warga nyaman dalam beraktivitas,” tambahnya.
DPU Kota Semarang ungkap jembatan itu dibangun oleh BBWS Pemali Juana
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang, Suwarto, mengatakan jembatan yang roboh tersebut merupakan jembatan sementara yang sebelumnya dibangun oleh BBWS Pemali Juana. Oleh karena itu, Pemkot Semarang tidak dapat memutuskan secara sepihak untuk membangun kembali jembatan darurat.
“Itu memang jembatan sementara yang BBWS Pemali Juana bangun. Kami masih melakukan kajian untuk pembangunan selanjutnya,” ujar Suwarto, Rabu, 28 Januari 2026.
BACA JUGA: Sungai Lusi Tersumbat Sampah Bambu, DPUPR Blora Kerahkan 2 Ekskavator untuk Normalisasi
Menurut Suwarto, kondisi Sungai Beringin saat ini masih berarus deras karena musim hujan. Hal tersebut menjadi salah satu pertimbangan utama sebelum memutuskan pembangunan jembatan. Hal itu karena jika pembangunan tanpa perhitungan matang, jembatan berisiko kembali hanyut.
“Sungainya sekarang masih deras. Kalau dibangun lagi tanpa perhitungan, bisa hanyut lagi dan justru menambah masalah,” ujarnya.
Tak hanya faktor alam, kata dia, keterbatasan material juga menjadi kendala apabila pembangunan jembatan darurat terlaksana dalam waktu dekat. Kondisi itu membuat pembangunan jembatan darurat pada tahun ini belum terpastikan. (*)
Editor: Farah Nazila





