Selain itu, ia mengingatkan agar pemerintah tidak menetapkan target pertumbuhan ekonomi yang justru berpotensi menekan sektor pertanian.
“Yang kedua, jangan ditarget pertumbuhan ekonomi yang berisiko menekan sektor pangan. Jangan beri target pertumbuhan ekonomi yang menekan sektor pangan,” katanya.
BACA JUGA: Kinerja Pemprov Jateng di Sektor Industri dan Pariwisata Menuai Apresiasi
Tak hanya itu, Kholik turut menyinggung kondisi lahan pertanian di Jawa Tengah yang sebagian besar merupakan sawah produktif. Dalam hematnya, alih fungsi lahan tersebut bisa menimbulkan persoalan hukum sekaligus mengancam ketahanan pangan.
“Itu luas baku sawah dan kalau melihat kondisi sawah di Jawa Tengah yang sebagian besar adalah sawah-sawah produktif. Ya bisa jadi itu yang beralih itu adalah lahan-lahan produktif,” terang dia.
Ia mencontohkan bahwa penggunaan lahan produktif bahkan sudah terjadi pada skala kecil seperti Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Apalagi jika pembangunan kawasan industri dalam skala besar.
“Kita kemarin mendengar misalnya selevel KDMP saja koperasi itu mengambil lahan produktif, apalagi kalau sudah industri. Ini sangat beresiko,” katanya.
Prediksi Kontribusi Pangan Jateng Merosot pada 2045
Lebih jauh, Kholik juga memaparkan proyeksi kontribusi Jawa Tengah terhadap produksi pangan nasional dalam beberapa dekade mendatang. Saat ini kontribusi provinsi tersebut masih cukup besar.
Namun berdasarkan kajian simulatif yang ia sebut, kontribusi tersebut berpotensi turun drastis apabila tidak ada intervensi kebijakan.
“Trennya hari ini kontribusi kita masih sekitar 18 persen, tapi tahun 2045 nanti diperkirakan 5 sampai 6 persen. Mestinya kalau ini daerah penumpu pangan itu bukan makin turun tapi makin up,” kata Kholik.
Menurut Kholik, kondisi tersebut menunjukkan adanya paradoks dalam kebijakan pembangunan yang perlu perbaikan segera.
BACA JUGA: Ahmad Luthfi Ajukan 9 Kawasan Industri Baru di Jateng: Ada Blora, Sragen, dan Banyumas
“Kalau tidak ya tidak ada gunanya daerah disebut sebagai penumpu pangan, tapi faktanya daerah itu dibiarkan,” pungkasnya.





