SEMARANG, beritajateng.tv – Rencana pembangunan sembilan kawasan industri baru di Jawa Tengah memantik kritik berbagai pihak.
Anggota DPD RI asal Jawa Tengah, Abdul Kholik, mengingatkan kebijakan tersebut berisiko menekan sektor pangan di provinsi yang selama ini dikenal sebagai salah satu penopang produksi pangan nasional.
Kholik menyebut pengembangan kawasan industri memang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Namun di sisi lain, kata dia, kebijakan itu berpotensi mempercepat alih fungsi lahan pertanian produktif.
“Sembilan kabupaten/kota di Jawa Tengah ingin mengajukan untuk kawasan industri. Nah, ya memang itu mungkin salah satu cara untuk mengangkat pertumbuhan ekonomi, tapi risikonya langsung ke sektor pangan,” ujar Kholik usai menghadiri Rapat Koordinasi bertajuk “Jawa Tengah Lumbung Pangan Nasional” di Kantor DPD RI Jawa Tengah, Kota Semarang, Jumat, 6 Maret 2026.
BACA JUGA: Genjot Investasi, Pemprov Jateng Siap Pasok Energi Terbarukan di Kawasan Industri Batang
Ia menyoroti data penurunan luas tanam di Jawa Tengah dalam beberapa tahun terakhir. Kholik menuturkan, dalam kurun lima tahun terakhir luas tanam di Jawa Tengah telah berkurang cukup signifikan.
“Dan itu terbukti dalam 5 tahun, Jawa Tengah itu luas tanamnya itu berkurang 79 ribu hektar dalam 5 tahun. Nah, nanti kalau ada tambahan 9 kawasan industri, bisa bayangkan berapa percepatan alih fungsi lahan ini,” kata Kholik.
Menurut Kholik, kondisi tersebut menjadi paradoks pada harapan agar Jawa Tengah tetap menjadi daerah penopang pangan nasional.
“Jadi, sekali lagi ini paradoks benar-benar yang harus pemerintah pusat perhatikan untuk Jawa Tengah,” tegasnya.
DPD RI Minta Pemerintah Pusat Beri Insentif Daerah Penyangga Pangan
Kholik menilai, apabila Jawa Tengah tetap diposisikan sebagai penyangga pangan nasional, maka pemerintah pusat perlu memberikan dukungan khusus bagi daerah tersebut.
“Kalau memang mestinya mau jadikan Jawa Tengah penumpu pangan, satu, harus beri support yang memadai secara maksimal. Kalau perlu ada insentif khusus untuk daerah penyangga pangan ini,” ujarnya.





