Selama dua pekan pertama Januari 2026, BPBD Jawa Tengah mencatat kejadian bencana berlangsung masif dan tersebar di banyak daerah. Bergas menyebut intensitas dan jumlah kejadian meningkat tajam, terutama bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.
“Banyak sekali. Kalau bicara longsor saja, tadi Pak Wakil Gubernur sampaikan, di Jepara ada sekitar 30 titik longsor. Apakah di Kudus tidak ada? Ada, kurang lebih juga sebanyak itu. Di Pati juga ada,” ujar Bergas.
Menurutnya, meski terjadi di banyak lokasi, tingkat dampak bencana tidak selalu sama. Ada kejadian yang hanya menutup akses jalan dan bisa warga tangani secara mandiri, namun ada pula yang berdampak besar hingga merusak rumah warga dan membutuhkan penanganan berat.
BACA JUGA: Trauma Banjir, Warga Desak Normalisasi Sungai Plumbon dan Soroti EWS Tak Berfungsi
“Intensitas dan kuantitasnya berbeda-beda. Ada yang cuma nutupi jalan, ada yang kena rumah. Yang kecil-kecil bisa masyarakat tangani, tapi yang besar tetap harus pakai alat berat. Seperti di Jepara, itu semuanya pakai alat berat untuk membuka jalan,” jelasnya.
Bergas menegaskan, pemerintah daerah bersama unsur terkait berupaya merespons cepat setiap kejadian bencana. Namun, ia juga menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat, terutama di tengah cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi.
“Kami mengimbau masyarakat, saat cuaca ekstrem seyogyanya sudah punya rencana. Menginformasikan kondisi, menyiapkan jalur evakuasi, dan memikirkan ke mana harus menyelamatkan diri,” pungkas Bergas. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





