BACA JUGA: Wajah Baru Perpustakaan Daerah Jateng di Kota Semarang Habiskan Anggaran Rp4,5 Miliar
Langkah-langkah itu harapannya dapat membangun ekosistem manajemen pengetahuan yang lebih hidup, relevan, dan adaptif. Sehingga, perpustakaan mampu bertransformasi menjadi pusat pengetahuan yang berdaya saing di era digital.
Pada akhirnya, transformasi perpustakaan di Indonesia tidak dapat tercapai tanpa pengelolaan pengetahuan yang terstruktur dan berkelanjutan. Manajemen pengetahuan harus menjadi ruh yang menghidupkan setiap proses di dalam organisasi perpustakaan. Yakni mulai dari pendokumentasian pengetahuan, berbagi praktik baik, hingga kolaborasi antarlembaga.
Sudah saatnya semua pihak, mulai dari pengambil kebijakan, pengelola perpustakaan, hingga pustakawan, menyadari pentingnya membangun ekosistem pengetahuan yang inklusif dan adaptif.
Harapannya, perpustakaan dapat benar-benar menjelma sebagai pusat pengetahuan yang dinamis dan mampu menjawab tantangan era digital. Selain itu juga berperan aktif dalam meningkatkan literasi masyarakat.
Tanpa komitmen bersama, pengetahuan akan terus terpendam dan hilang tertelan zaman. Tetapi dengan kesadaran kolektif dan strategi nyata, perpustakaan Indonesia berpeluang menjadi jantung peradaban.
Tidak hanya mewariskan pengetahuan, perpustaaan juga akan menciptakan pengetahuan baru bagi generasi mendatang. (*)
Penulis: Lathifah, MSIP UNAIR Surabaya
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





