Opini

Tantangan di Era Digital, Gandeng Manajemen Pengetahuan Menuju Perpustakaan Masa Depan

×

Tantangan di Era Digital, Gandeng Manajemen Pengetahuan Menuju Perpustakaan Masa Depan

Sebarkan artikel ini
Perpustakaan Era Digital
Lathifah, MSIP UNAIR Surabaya. (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh karena itu, untuk mengatasi berbagai tantanga tersebutn dibutuhkan keseriusan dari para pemangku kebijakan untuk menjadikan manajemen pengetahuan sebagi bagian dari trategi kunci dalam mengembangkan tranformasi perpustakaan di era digital.

BACA JUGA: Menelusuri Jejak Sejarah Lewat Manuskrip dan Naskah Kuno di Perpustakaan Jawa Tengah

Kesiapan sumber daya manusia dalam praktik manajemen pengetahuan untuk jadi budaya organisasi juga menjadi tantangan lain. Adakalanya kita menghadapi beberapa personal yang tidak siap akan perubahan dan perkembangan; merasa nyaman dan aman dengan situasi dan kondisi yang tidak terlalu mempunyai tuntutan dalam pengembangan layanan di perpustakaan.

Padahal, praktik manajemen pengetahuan di perpustakaan akan memberi dampak baik dalam peningkatan layanan, inovasi, dan pemenuhan kebutuhan informasi serta mendukung gerakan literasi di perpustakaan.

Tentu saja pengguna perpustakaan juga akan merasakan dampak positif dari praktik manajemen pengetahuan ini, sehingga dapat memicu pengguna untuk terus memanfaatkan perpustakaan sebagai pusat infromasi dalam setiap pemenuhan kebutuhannya.

Solusi dan harapan

Terdapat berbagai tantangan dalam praktik manajemen pengetahuan di perpustakaan, baik tantangan internal seperti rendahnya budaya berbagi pengetahuan maupun tantangan eksternal seperti keterbatasan infrastruktur perlu penyusunan strategi yang lebih terarah dan berkelanjutan.

Beberapa strategi guna menjawab berbagai tantangan tersebut antara lain penguatan kebijakan top-down dari pimpinan organisasi agar manajemen pengetahuan menjadi bagian integral dari budaya kerja.

Selain itu, penyelenggaraan pelatihan dan pembelajaran berkelanjutan bagi pustakawan juga mutlak perlu. Hal itu agar mereka memiliki kompetensi dalam mengelola, mendokumentasikan, dan mendistribusikan pengetahuan secara efektif.

Tak kalah penting, penyediaan teknologi pendukung yang memadai, mulai dari sistem repositori digital, portal pengetahuan internal, hingga platform kolaborasi daring harus ada pengutamaan agar proses berbagi pengetahuan tidak terhambat.

Kolaborasi antarlembaga, baik antarperpustakaan maupun dengan pemangku kepentingan lain, juga perlu penguatan. Dengan demikian, pengetahuan tidak hanya terkumpul dan terisolasi di satu institusi, tetapi dapat saling bertukar untuk memperkaya wawasan bersama.