SEMARANG, beritajateng.tv – Pernyataan Rektor Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Prof. Intiyas Utami, dianggap belum menyentuh inti persoalan yang tengah terjadi di Fakultas Teknologi Informasi (FTI).
Dosen serta mahasiswa merasa pernyataan itu mengabaikan keresahan mereka.
Koordinator Bidang Kerjasama, Kemahasiswaan dan Kealumnian FTI UKSW, Evangs Mailoa, menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers, Selasa, 6 Mei 2025 di gedung FTI.
Evangs menilai pernyataan tertulis dari Rektor hanya formalitas dan tak menjawab tuntutan sivitas akademika FTI.
“Rektor pernah menjanjikan hadir di FTI, namun saat itu hanya kirim perwakilan. Ini mengecewakan,” tegas Evangs.
BACA JUGA: Polemik Pergantian Dekan, Dosen dan Mahasiswa FH UKSW Klarifikasi Pernyataan Rektor
Ia menyayangkan sikap birokratis pimpinan UKSW yang justru menjauh dari dialog langsung. Komunikasi hanya bisa lewat surat dan butuh waktu lama untuk menunggu balasan.
Menurutnya, sivitas FTI menginginkan perubahan nyata. Mulai dari pembenahan sarana, perbaikan akses jalan, hingga penyediaan fasilitas kampus yang memadai seperti jaringan internet dan komputer.
Mahasiswa juga berharap adanya pemasangan kanopi di area parkir untuk kenyamanan.
Ia juga mengkritik penerapan kelas tematik yang lebih berorientasi tampilan ketimbang kebutuhan riil fakultas. “Program itu bukan usulan dari bawah, tapi hanya keputusan sepihak,” ungkap Evangs.
BACA JUGA: UKSW Tunjuk Prof. Christina Maya Indah sebagai Dekan Baru FH, Gantikan Prof. Umbu Rauta
Tuntutan transparansi pengelolaan beasiswa dan dana kampus pun belum dijawab. Dari total 2.738 mahasiswa aktif, hanya 123 yang menerima beasiswa. Jumlah ini dinilai tidak adil dan tidak mencerminkan asas proporsionalitas.
Evangs menegaskan, FTI bukan objek eksploitasi demi kepentingan kampus utama. Jika UKSW beroleh sebutan rumah bersama, maka FTI pun layak mendapat perhatian setara.
Ia berharap pimpinan tertinggi UKSW mau meluangkan waktu hadir dan melihat langsung kondisi di FTI.
“Melalui kesempatan ini, kami kembali mengajak Rektor untuk berdialog terbuka dan membangun perubahan bersama,” tandasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





