SEMARANG, beritajateng.tv – Sebanyak 7.315 pekerja di Provinsi Jawa Tengah terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) sepanjang Januari hingga Agustus 2026.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jateng Ahmad Aziz mengatakan, PHK tersebut terjadi di sejumlah perusahaan.
Alasannya, perusahaan mengalami kondisi. Mulai dari efisiensi, menurunnya pesanan, hingga perusahaan yang berhenti beroperasi.
Berdasarkan data Disnakertrans Jawa Tengah, PHK tercatat di 13 kabupaten/kota. Jumlah terbanyak berada di Sragen sebanyak 1.396 pekerja, disusul Sukoharjo 920 pekerja, Purbalingga 867 pekerja, Jepara 807 pekerja, dan Kabupaten Tegal 681 pekerja.
Kemudian Wonogiri tercatat 479 pekerja, Kota Semarang 527 pekerja, Kabupaten Pekalongan 325 pekerja, Purworejo 142 pekerja, Banyumas 141 pekerja, Kabupaten Magelang 140 pekerja, serta Temanggung 125 pekerja.
PHK Terbesar Tercatat di Perusahaan Mainan hingga Garmen
Sebagai contoh, ddi Kabupaten Sragen, PT Combine Will Industrial Indonesia tercatat melakukan PHK terhadap 1.396 pekerja. Rinciannya, sebanyak 849 pekerja pada April karena perusahaan berhenti beroperasi dan 547 pekerja pada Mei akibat menurunnya order yang berujung pada efisiensi.
Kemudian PT SAS Kreasindo Utama di Kabupaten Tegal melakukan PHK terhadap 920 pekerja karena perusahaan tutup. Sementara PT Samwon Busana Indonesia di Jepara tercatat melakukan PHK terhadap 807 pekerja. Sebanyak 122 pekerja terkena PHK pada April dan 685 pekerja pada Juli dengan alasan efisiensi karena perusahaan mengalami kerugian.
Di Purbalingga, PT Cosmoprof Indokarya tercatat melakukan PHK terhadap 620 pekerja karena tidak lagi beroperasi.
BACA JUGA: Desak Kepastian Kerja Masuk Revisi RUU Ketenagakerjaan, Serikat Buruh Jateng Bakal Turun Aksi 28 September 2026
Sementara di Kota Semarang, data mencatat PHK di antaranya terjadi di PT Mas Silueta sebanyak 681 pekerja akibat efisiensi karena force majeure berupa kebakaran, serta PT Victory Apparel Semarang yang tercatat melakukan PHK dalam dua catatan dengan total 404 pekerja karena efisiensi akibat kerugian.





