SEMARANG, beritajateng.tv – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi turut merespons wacana pemekaran provinsi Jawa Tengah menjadi empat wilayah.
Untuk diketahui, beredar usulan pemekaran Provinsi Jawa Tengah menjadi empat provinsi. Adapun provinsi itu ialah Banyumasan, Muria Raya, Daerah Istimewa Surakarta, dan Provinsi Jawa Tengah.
Luthfi mengaku tak masalah dengan wacana pemekaran Provinsi Jateng yang beredar dan ramai menjadi perbincangan publik. Selama wacana pemekaran itu mengarah ke hal-hal bersifat positif dan tidak menganggu otonomi daerah.
“Sepanjang itu menjadi penilaian positif tidak apa, tapi kalau sepanjang itu akan menggerus terkait otonomi daerah kita pertimbangkan,” ungkap Luthfi saat beritajateng.tv jumpai di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Kota Semarang, Kamis, 17 April 2025 sore.
BACA JUGA: Respons Isu Pemekaran Wilayah, Pemprov Jateng: Kita Tidak Berpikir Nambah Provinsi
Lebih lanjut, kata Luthfi, pemekaran Jawa Tengah menjadi empat provinsi itu masih sebatas wacana. Belum ada rencana maupun eksekusi nyata untuk mewujudkannya.
“Dan sekarang itu hanya wacana kok, belum sampai ke arah sana,” jelasnya.
Mantan Kapolda Jateng itu pun menegaskan keputusan pemekaran provinsi itu ada di tangan pusat.
“Itu kan semua pusat yang menentukan bukan kita,” pungkas Luthfi.
Wacana pemekaran Jawa Tengah jadi empat provinsi
Sebelumnya, wacana pemekaran provinsi itu pun mendapat respons Asisten Ekonomi dan Pembangunan Jateng, Sujarwanto Dwiatmoko.
Saat beritajateng.tv jumpai di Gedung A lantai 4 Kantor Gubernur Jawa Tengah pada Rabu, 16 April 2025, Sujarwanto enggan bicara banyak.
Pasalnya, pemekaran provinsi Jateng itu hanya isu belaka meskipun ramai di media sosial.
BACA JUGA: Abdul Kholik Harap Reaktivasi Jalur KA Purwokerto-Wonosobo jadi Prioritas, Usulkan Nama Baru
“Sopo sing (siapa yang) mekarin? Itu kan isu, saya gak bisa nanggapi,” jawab Sujarwanto singkat.
Isu pemekaran provinsi Jawa Tengah itu digadang-gadang banyak menjadi topik diskusi di kalangan akademisi. Mulai sari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Universitas Negeri Surakarta (UNS).
Merespons hal tersebut, Sujarwanto mengarahkan awak media untuk bertanya pada akademisi terkait.
“Ya tanya dosen Undip saja,” ucapnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi






