Jateng

Atlet Taekwondo PPLOP Jateng Meninggal Usai Latihan, Pelatih Soroti Kondisi Fisik

×

Atlet Taekwondo PPLOP Jateng Meninggal Usai Latihan, Pelatih Soroti Kondisi Fisik

Sebarkan artikel ini
pelatih taekwondo // atlet meninggal
Pelatih Taekwondo Roy Nugroho saat menjadi Manager Taekwondo Jateng di PON 2024 Aceh-Sumut. (Fadia Haris Nur Salsabila/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Seorang atlet taekwondo dari Pemusatan Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLOP) Jawa Tengah, Agil Tri Nugroho, meninggal dunia usai menjalani latihan pada Rabu, 5 Maret 2025.

Kuat dugaan, Agil mengalami kelelahan hingga dehidrasi setelah sebelumnya kolaps saat mengikuti sesi latihan fisik di kompleks Stadion Jatidiri Semarang.

Pelatih taekwondo di Jawa Tengah, Roy Nugroho, menjelaskan bahwa latihan selama bulan Ramadan adalah hal biasa. Hal itu bertujuan untuk menjaga kebugaran dan massa otot atlet.

Namun, menurutnya, porsi latihan selama bulan Ramadan seharusnya mengalami penyesuaian. Sehingga latihan tidak membebani fisik para atlet yang sedang berpuasa.

“Kalau menurut saya, puasa itu biasa tetap berlatih. Saya puasa juga masih ngelatih murid-murid saya. Tapi ya beda, kalau biasanya jam 07.00 sampai jam 10.00 sekarang mulai latihannya jam 08.00 sampai jam 10.00, jadi mundur 1 jam,” jelas Roy kepada beritajateng.tv, Rabu, 12 Maret 2025.

BACA JUGA: Usut Kematian Atlet, Pengprov TI Jateng Bentuk Tim Investigasi

Mantan Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi Pengprov Taekwondo Indonesia (TI) Jawa Tengah itu mengatakan, komunikasi menjadi hal yang penting antara atlet dan pelatih terkait kondisi fisik saat latihan.

Pasalnya, kondisi fisik tiap atlet pasti berbeda-beda. Ia melihat, porsi latihan tak bisa menjadi faktor kesalahan satu-satunya dalam tragedi meninggalnya Agil.

Menurut Roy, apabila porsi latihan terlalu berat, seharusnya lebih banyak atlet yang mengalami kolaps.

“Kalau memang itu digojlok, pasti yang pingsan enggak cuma 3, mungkin bisa 80 persen hampir 90 persen mungkin yang pingsan. Tapi ini saya lihat dari jumlahnya hanya tiga anak,” ungkapnya.

Atlet dan pelatih harus terbuka mengenai kondisi fisik

Oleh karenanya, lanjut Roy, atlet harus berani terbuka kepada pelatih mengenai kondisi fisiknya selama latihan. Begitu juga dengan pelatih yang harus lebih peka terhadap kondisi anak asuhnya.

“Ada satu kondisi di mana atlet harus terus terang ke pelatih dengan kondisinya pada saat melakukan sesi latihan. Atau mungkin ada pendekatan yang lebih baik lagi dari pelatih untuk menanyakan kondisi anak tersebut kenapa tidak mencapai target,” tuturnya.

Sementara itu, terkait kemungkinan adanya kesalahan prosedur dalam latihan, Roy menyatakan bahwa segala bentuk tanggung jawab akan dikembalikan kepada keluarga korban dan pihak yang berwenang.

“(Pelatih disalahkan) Wah, itu kurang tahu. Kalau mengenai itu ya biar pelatihnya pasti lebih tahu cara menyelesaikan masalah ini. Jika pihak keluarga merasa tidak menerima atau ingin menempuh jalur hukum, itu adalah hak mereka,” ujar Roy.

BACA JUGA: Atlet PPLOP Taekwondo Meninggal Usai Latihan, Begini Pernyataan Ketua Pengprov TI Jawa Tengah

Ia menambahkan, tanpa bukti konkret seperti rekaman CCTV atau video, sulit untuk mengetahui secara pasti penyebab kejadian tersebut.

“Kalau kalau memang pelatih tidak bersalah pasti tidak sampai ke mana-mana. Apalagi kita enggak tahu persis karena tidak ada CCTV atau apa. Kalau Ada video ada kan kita bisa analisa,” pungkasnya. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp