PATI, beritajateng.tv – Banjir Kabupaten Pati kembali meluas setelah cuaca ekstrem melanda wilayah hulu awal pekan ini. Kondisi tersebut menyebabkan genangan bertahan pada puluhan desa.
Masyarakat terdampak masih berupaya bertahan sambil menunggu air surut. Pemerintah daerah terus melakukan pemantauan intensif.
Sebanyak 50 desa pada tujuh kecamatan masih menghadapi genangan air. Wilayah terdampak meliputi Kecamatan Pati, Juwana, Kayen, Jakenan, Sukolilo, Gabus, serta Dukuhseti. Setiap kecamatan mencatat jumlah desa terdampak berbeda. Keadaan tersebut memicu kekhawatiran warga setempat.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Pati, Martinus Budi Prasetyo, menyebut banjir masih bertahan hingga sekarang. Ia menegaskan pemantauan berlangsung setiap hari. “Banjir saat ini masih wilayah tujuh kecamatan terdampak,” ujar Martinus, Rabu, 28 Januari 2026. Ia menambahkan, “Total desa tergenang mencapai 50 lokasi.”
Data BPBD Kabupaten Pati mencatat ribuan rumah terendam air. Sebanyak 3.650 rumah masih tergenang hingga ketinggian tertentu. Rumah tersebut menaungi 4.606 keluarga. Aktivitas warga pun mengalami hambatan cukup serius.
Selain permukiman, banjir turut menyerang sektor pertanian dan perikanan. Luasan sawah tergenang mencapai 4.475 hektare. Area tambak ikan turut terendam seluas 872 hektare. Kondisi tersebut memicu potensi kerugian ekonomi besar.
BACA JUGA: Kayu Gelondongan Terbawa Banjir Bandang Pemalang-Banyumas, WALHI Jateng: Ada Indikasi Deforestasi
Martinus menjelaskan pencatatan dampak banjir mencakup berbagai sektor. “Genangan masih terlihat wilayah permukiman, sawah, serta tambak,” ungkapnya. Ia melanjutkan, “Semua area terdampak kami catat sebagai dampak banjir.”
Banjir Kabupaten Pati sebenarnya sempat menunjukkan tanda surut pekan lalu. Namun cuaca ekstrem kembali memicu kenaikan air. Hujan deras terjadi wilayah pegunungan sekitar. Aliran sungai utama pun kembali meluap.
Menurut Martinus, hujan deras tidak selalu terjadi wilayah Pati. Curah hujan tinggi justru muncul Pegunungan Muria serta Kendeng. “Hujan deras wilayah Muria Timur dan Kendeng memengaruhi Silugonggo,” jelasnya. Ia menambahkan, “Beberapa desa yang sempat surut akhirnya tergenang lagi.”
Beberapa desa mengalami kenaikan air hingga setinggi selutut orang dewasa. Wilayah Jakenan serta Juwana kembali terdampak. Martinus menyebut Mintobasuki dan Ngastorejo ikut mengalami kenaikan air.
Penanganan Banjir Kabupaten Pati Terus Berjalan
Faktor geografis wilayah hulu menjadi perhatian utama petugas. Pegunungan Kendeng serta Muria berperan besar terhadap kondisi banjir. Air kiriman mengalir menuju wilayah hilir. Desa sepanjang aliran Silugonggo merasakan dampak paling signifikan.
BPBD Pati kini memprioritaskan bantuan kebutuhan dasar. Tim lapangan menyalurkan makanan cepat saji kepada warga terdampak.
BACA JUGA: Warga dan Pemkot Kerja Bhakti Bersihkan Kali Banger, Upaya Tekan Risiko Banjir di Semarang
Ia juga mengingatkan masyarakat tetap waspada menghadapi potensi hujan lanjutan. Koordinasi lintas instansi terus berlangsung. Pemerintah daerah berupaya mempercepat pemulihan. Warga berharap kondisi segera membaik.
Banjir Kabupaten Pati menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan bencana. Sinergi pemerintah serta masyarakat sangat diperlukan. Upaya mitigasi jangka panjang pun perlu penguatan. Harapannya, risiko banjir dapat ditekan masa mendatang. (*)





