SEMARANG, beritajateng.tv – Dinas Kesehatan Kota Semarang memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus virus Nipah di Kota Semarang. Meski demikian, pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan dan sosialisasi sebagai langkah antisipasi menyusul meningkatnya perhatian global terhadap penyakit zoonosis tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, M. Abdul Hakam, mengatakan kewaspadaan dini setelah Kementerian Kesehatan menggelar rapat koordinasi secara daring pada Senin terkait potensi masuknya virus Nipah ke Indonesia.
“Kemarin Kementerian Kesehatan mengadakan rapat Zoom tentang kewaspadaan dini virus Nipah. Sampai hari ini, di Kota Semarang belum ada kasus virus Nipah,” kata Hakam di Semarang.
Ia menjelaskan, virus Nipah merupakan virus zoonosis yang berasal dari keluarga Paramyxoviridae dengan reservoir utama kelelawar buah. Virus tersebut dapat hidup pada kelelawar tanpa menimbulkan gejala, namun berpotensi menular ke hewan lain dan manusia.
“Reservoir-nya adalah kelelawar buah. Dari kelelawar, virus ini bisa menular ke hewan ternak seperti babi, lalu berpindah ke manusia,” ujarnya.
Menurut Hakam, virus Nipah menjadi perhatian serius karena memiliki tingkat kematian yang cukup tinggi. Berdasarkan catatan kasus di beberapa negara, angka kematian akibat infeksi virus ini bisa mencapai 50 hingga 75 persen.
“Gejalanya bisa ringan seperti flu, demam, nyeri otot, mual, dan muntah. Tapi pada kondisi berat, virus ini menyerang otak dan menyebabkan radang otak atau ensefalitis,” jelasnya.
BACA JUGA: Kemiskinan di Semarang Turun, Wilayah Pesisir Semarang Utara Masih Tertinggi
Pada tahap lanjut, pasien dapat mengalami gangguan kesadaran, kebingungan, kejang, hingga koma.
Kondisi inilah yang membuat virus Nipah tergolong berbahaya dan perlu kita waspadai sejak dini.
Hakam menambahkan, hingga kini belum tersedia obat khusus maupun vaksin untuk virus Nipah. Penanganan pasien bersifat simptomatik, kita sesuaikan dengan gejala yang muncul.
“Karena ini virus, pengobatannya hanya mengatasi gejala. Kalau demam diberi penurun panas, kalau kejang diberi obat antikejang. Sampai sekarang belum ada obat spesifik atau vaksin untuk virus Nipah,” katanya.
Oleh karena itu, upaya pencegahan menjadi langkah utama. Penularan virus Nipah dapat terjadi dari hewan ke manusia, melalui makanan yang terkontaminasi, maupun dari manusia ke manusia, terutama di fasilitas kesehatan.
“Buah-buahan yang sudah tergigit kelelawar sebaiknya tidak dikonsumsi. Hindari juga kontak dengan hewan ternak di wilayah yang berisiko,” ujar Hakam.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat sebagai benteng utama pencegahan penyakit menular.
“Cuci tangan sebelum makan, gunakan masker bila perlu, dan jaga kebersihan. Itu langkah sederhana tapi sangat penting,” ucapnya.
Dinas Kesehatan Kota Semarang telah melakukan sosialisasi kepada seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. Puskesmas, rumah sakit, hingga laboratorium telah memiliki bekal informasi mengenai gejala dan prosedur penanganan jika terdapat kasus suspek.
“Teman-teman Puskesmas, rumah sakit, dan faskes lainnya sudah mengikuti sosialisasi dari Kementerian Kesehatan. Mereka sudah paham apa yang harus mereka lakukan jika menemukan kasus,” jelas Hakam.
Dalam waktu dekat, Dinas Kesehatan Kota Semarang juga akan memperluas edukasi hingga ke tingkat kecamatan dengan melibatkan lintas sektor.
“Bulan ini saya akan keliling ke 50 kecamatan dan bertemu lintas sektor. Kami akan sampaikan langsung terkait kewaspadaan virus Nipah agar informasi sampai ke masyarakat,” pungkasnya. (*)
Editor: Elly Amaliyah





