SEMARANG, beritajateng.tv – Sosok Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kini mendapatkan julukan sebagai Menteri Koboi.
Tingkahnya yang asik dan santai namun kinerjanya cukup meyakinkan, kini berhasil mencuri banyak perhatian.
Jauh sebelum Purbaya jadi menteri ternyata ia pernah berbincang santai dengan Putri Tanjung dalam sebuah podcast.
BACA JUGA: 2 Prajurit TNI AD Terlibat Kasus Pembunuhan Kacab Bank BUMN, Polisi Militer Ungkap Motifnya
Ada sebuah pertanyaan yang menyimpulkan bahwasanya Menkeu ini betul-betul seseorang yang layak mendapatkan julukan Koboi.
Melalui podcast tersebut, Putri Tanjung menanyakan tentang kebiasaan dan hobi yang ia lakukan.
Purbaya Yudhi Sadewa
Purbaya mengungkapkan ada kebiasaan yang ia lakukan terlebih ketika sedang stress dan banyak pikiran.
“Kalau stress, saya nonton Drama China yang pendek-pendek itu. Bagi saya itu menghibur,” ucapnya sambil tertawa.
Siapa sangka, ternyata mendengar jawabannya tersebut Putri Tanjung ikut tertawa ngakak.
Purbaya Yudhi Sadewa mengaku bahwasanya film yang ia saksikan yakni bukanlah film yang berdurasi lama karena untuk membosankan dan membutuhkan waktu lama.
Terkadang sikapnya tersebut yang terlalu sering nonton membuat sang istri sampai tega memarahinya.
Mengetahui kebiasaan Menteri Keuangan Purba yang ternyata gemar menonton drama pendek asal Tiongkok, warganet pun dibuat tertawa.
Banyak yang tak menyangka, sosok menteri yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua Dewan Komisioner LPS ini ternyata punya hobi sederhana layaknya bapak-bapak pada umumnya.
BACA JUGA: Bakal Matikan Aplikasi, Ribuan Driver Ojol Akan Demo Besar-besaran Besok 17 September 2025
Meski memiliki kebiasaan unik menonton drama pendek asal Tiongkok, ia juga memiliki hobi khas seorang intelektual, yaitu membaca.
Menariknya, bukan sekadar buku, ia justru lebih gemar membaca koran internasional ketimbang mengikuti pemberitaan dari media lokal maupun nasional.
Hal ini merupakan sebuah kebiasaan yang terbilang langka, karena minimnya tingkat literasi di Indonesia.
Perkembangan teknologi yang semakin canggih menjadikan banyak pihak semakin malas membaca sesuatu yang bersifat produktif. (*)




