Kesehatan

Dinkes Lakukan Skrining Masif, Kasus TBC di Semarang Tunjukkan Penurunan

×

Dinkes Lakukan Skrining Masif, Kasus TBC di Semarang Tunjukkan Penurunan

Sebarkan artikel ini
Dinkes Lakukan Skrining Masif, Kasus TBC di Semarang Alami Penurunan
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, M. Abdul Hakam. (Ellya/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Dinas Kesehatan Kota Semarang melakukan skrining dan tracking secara masif kepada para penderita tuberkulosis (TBC) hingga Kontak erat.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, M. Abdul Hakam mengatakan dengan adanya skrining secara masif, hal ini bisa menekan angka penyakit infeksi termasuk kasus TBC.

“Saat ini angka TBC di Kota Semarang terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun,” kata Hakam, Minggu, 20 Juli 2025.

Dalam empat tahun terakhir, pihaknya terus melakukan skrining dan tracking kepada penderita dan Kontak erat. Inilah yang membuat angka kasus TBC terus mengalami penurunan.

BACA JUGA: Lewat Penghargaan Kota Sehat, Walikota Semarang Dorong Warganya Miliki Budaya Hidup Sehat

Hakam menyebut pada tahun 2023, telah melakukan skrining kepada 45 ribu warga, di mana temuan positifnya sekitar 7.900 kasus.

Kemudian pada 2024, terus melakukan skrining ke 47 ribu suspek dan menemukan angka positif 6 ribu kasus.

“Semakin tinggi skrining dan temuan angka positifnya rendah ini semakin bagus. Sampai Mei 2025, angka kasus yang ada sekitar 1.963,” bebernya.

Lebih lanjut, Hakam mengatakan untuk intervensi berupa skrining ini tidak di pungut biaya.

Hal ini lantaran ketika menemukan satu kasus positif, kontak erat seperti keluarga dan orang terdekat kemudian akan pihaknya lakukan skrining.

Pasalnya, penularan TBC terjadi melalui droplet mirip pada kasus Covid-19.

“Kalau kontaknya negatif, setelah skrining, Dinkes melakukan terapi pencegahan tuberculosis (TPT). Dan di berikan obat yang di minum seminggu sekali. Penderita TBC himbauannya kalau keluar harus pakai masker,” tuturnya.

Terkait rencana vaksin TBC seperti yang ada di Jakarta, Hakam menyebut hal tersebut tidak perlu berjalan di Kota Semarang.

Apalagi skrining terus Dinas Kesehatan lakukan untuk mengantisipasi penularan.

“Kita tidak boleh berhenti skrining, contohnya saat Covid-19, kontak erat di periksa hal ini yang membuat kasusnya turun,” ujarnya.

Saat ini, lanjut Hakam, Pemerintah Kota Semarang sedang menyusun rancangan peraturan daerah (Raperda) TBC.