Jateng

Evaluasi 10 Tahun Kepemimpinan Ganjar, Pengamat Ekonomi Soroti Kemiskinan Ekstrim Hingga Industri di Jateng

×

Evaluasi 10 Tahun Kepemimpinan Ganjar, Pengamat Ekonomi Soroti Kemiskinan Ekstrim Hingga Industri di Jateng

Sebarkan artikel ini
kemiskinan ekstrim di Jateng
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Kemiskinan hingga industri di Jateng menjadi evaluasi 10 tahun kepemimpinan Ganjar Pranowo. Pengamat ekonomi asal Universitas Diponegoro (UNDIP) Wahyu Widodo menilai, utamanya kemiskinan, menjadi tantangan bagi gubernur dua periode itu.

“Terutama yang mendapat sorotan banyak itu terkait kemiskinan,” ujar Wahyu saat beritajateng.tv hubungi melalui sambungan WhatsApp, Sabtu, 2 September 2023.

Perihal kemiskinan ekstrim, pengajar program studi Ekonomi itu menjelaskan lebih lanjut. Ia meluruskan, kemiskinan ekstrim merupakan kerak sebuah kemiskinan yang menggunakan standar konsumsi per hari setiap penduduknya sebesar 1,9 USD atau sekitar Rp 28 ribu. Sementara itu, klasifikasi kemiskinan juga dapat melalui perhitungan BPS.

BACA JUGA: Evaluasi 10 Tahun Kebijakan Ganjar Selama Menjabat, Nasib Guru Honorer dan Fasilitas Sekolah Negeri Jadi Sorotan

“Yang paling menderita, baik kemiskinan ekstrim atau dari BPS itu salah satunya Kebumen, Brebes, Wonosobo, Cilacap. Wilayah selatan yang barat itu cenderung mendominasi. Apakah ada faktor non ekonomi, kita belum assess (ukur) lebih jauh. Apakah ada culture aspect sehingga kemiskinan mengelompok di situ,” sambung Wahyu.

Baginya, program akselarasi dari Pemprov Jateng sangat penting. Pasalnya, ia menilai kemiskinan tidak bisa terselesaikan hanya dengan satu kebijakan.

“Makanya kita kenal kemiskinan multidimensi itu, karena orang sudah miskin mau dikeluarkan dari garis kemiskinan, tetapi yang di atas garis kemisikinan berpotensi jatuh ke jurang kemiskinan juga,” beber Wahyu.

Perlu koordinasi dengan Pemerintah pusat guna entaskan kemiskinan di Jateng

Ia juga menyinggung program Pemprov Jateng dalam mengatasi kemiskinan tersebut. Meskipun sudah banyak intervensi yang terlaksana di masa pemerintahan Ganjar, namun koordinasi dengan Pemerintah pusat, terutama terkait data, sangatlah penting guna keluar dari problem yang tak pernah usai itu.

“Kalau program yang sudah ada macam-macam. Prioritasnya sama seperti program nasional, seperti intervensi terhadap pelayanan dasar mulai dari pendidikan dan kesehatan. Sebenarnya cukup banyak yang Pemprov Jateng lakukan, hanya tantangannya ini perlu koordinasi dengan pusat soal kebijakan maupun prioritas data yang digunakan,” imbuhnya.

Lebih lanjut, ‘footloose industry’ atau industri yang pendiriannya dapat di mana saja sebab bahan baku hingga tenaga kerja dengan mudah ditemukan, menjadi mayoritas industri di Jawa Tengah.

BACA JUGA: Pertegas Pendidikan Gratis, Dinas Pendidikan Jateng Klaim Kasus Penahanan Ijazah Sekolah Negeri Tuntas

Tak heran, penopang perekonomian di Provinsi ini terdukung oleh industri tekstil dan alas kaki. Berbeda dengan Provinsi Jawa Barat maupun Jawa Timur yang berbasis pada industri manufaktur yang butuh SDM dengan kualifikasi tertentu. Wahyu pun menyebutkan tantangan yang mesti pemimpin Jateng hadapi dalam mengatasi hal itu.

“Jateng masih didominasi industri tekstil seperti alas kaki, kayu, yang sebagian sangat bergantung dari impor. Jadi istilahnya export oriented tetapi bahan bakunya impor. Tantangannya ketika kurs kita melemah, itu bisa buat cost of production meningkat,” terangnya.

Evaluasi lain yang ia berikan, Wahyu menilai pertumbuhan ekonomi dalam 10 tahun terakhir tergolong stabil. Meskipun saat Covid-19 melanda sempat anjlok dari pertumbuhan ekonomi nasional.

“Melihat dari indikator ekonomi makro, melihat pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah dalam 10 tahun terakhir, sebenarnya sangat stabil. Bahkan 5 tahun terakhir sedikit di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Tetapi memang waktu Covid-19 lebih tertekan dari pertumbuhan ekonomi nasional, karena memang struktur ekonomi Jateng itu sedikit berbeda dengan nasional, wajar kalau goncangannya lebih besar,” pungkas Wahyu. (*)

Editor: Mu’ammar Rahma Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp