SEMARANG, beritajateng.tv – Menjelang tahun baru Imlek 2024, ada salah satu perajin barongsai di Semarang yang memiliki kisah menarik.
Nama asli perajin tersebut ialah Chandra Wiro Utomo, namun orang lebih akrab menanggilnya Koh Hong. Ia termasuk salah satu pihak yang ikut kecipratan cuan atau untung.
Koh Hong adalah satu dari sekian perajin barongsai yang masih bertahan di Kota Semarang. Ia sendiri memang telah lama menekuni profesi ini. Dari pengakuannya, Koh Hong adalah generasi keempat.
“Awalnya dari kakek sekitar tahun 80-an, turun ke ayah, lanjut ke kakak ipar lalu ke saya,” ungkapnya saat beritajateng.tv temui, Jumat, 2 Februari 2024.
Ia mengisahkan, sang kakek saat itu memiliki sekolah barongsai yang bernama Hauw Gie Hwe. Karena membutuhkan banyak barongsai baru, kakek Koh Hong kemudian memilih untuk membuat sendiri.
Singkat cerita, Koh Hong kecil akrab dengan segala tetek bengek barongsai hingga kini meneruskan usaha leluhurnya. Tidak hanya sebagai perajin, namun Koh Hong juga kini menjadi pelatih barongsai.
BACA JUGA: Jelang Imlek, Perajin Barongsai di Semarang Kebanjiran Order, Naik Hingga 100 Persen
Bahkan, sekolah barongsai sang kakek masih bertahan hingga sekarang dengan nama Elang Terbang dari Timur.
“Sekarang minat anak muda untuk main barongsai mulai meningkat karena sekarang menjadi cabang resmi olahraga,” ucapnya.
Tak hanya Imlek, barongsai juga jadi cabang olahraga
Barongsai memang telah resmi menjadi cabang olahraga (cabor) pada berbagai event lomba bergengsi. Seperti PON dan Porprov. Sebagai salah satu pelatih yang melewati perkembangan barongsai, Koh Hong mengaku bersyukur.
“Karena masuk cabor itu jadi ada perkembangannya. Kalau nggak masuk cabor saya rasa pasti akan tergerus zaman juga,” katanya.
Di sisi lain, Koh Hong mengakui jika ritual dan kesakralan barongsai mulai luntur. Awalnya, barongsai hanya dipertunjukkan pada saat-saat tertentu dan dimainkan oleh keturunan Tionghoa.
Kini, siapa saja bebas memainkan barongsai di manapun dan kapanpun. Namun demikian, Koh Hong menilainya sebagai langkah positif dalam pelestarian budaya barongsai.
“Kalau menurut saya menguntungkan, karena regenerasi susah, kalau terbatas lama-lama hilang. Kita nggak munafik orang-orang keturunan Tionghoa nerusin gini rata-rata nggak mau,” tuturnya.
Sebelumnya, para pemain barongsai memang hanya menganggap barongsai sebagai sampingan dan hobi semata. Namun, semenjak resmi dipertandingan pada PON, mereka mulai bersiap merancang masa depan berbeka kecintaannya pada barongsai.
“Waktu belum diresmikan anak-anak jadi pekerja seni, tapi sekarang kita nyebutnya sebagai atlet. Kalau mereka berprestasi, dapet emas, nanti bisa dapet intensif, jadi mereka semangatnya ada,” tandasnya.(*)
Editor: Farah Nazila





