Jateng

Kunjungi PT SCI Salatiga, Mendag RI Ungkap Alasan Indonesia Perlu Perjanjian Dagang dengan Amerika Serikat

×

Kunjungi PT SCI Salatiga, Mendag RI Ungkap Alasan Indonesia Perlu Perjanjian Dagang dengan Amerika Serikat

Sebarkan artikel ini
Perjanjian Dagang
Menteri Perdagangan (Mendag) RI, Budi Santoso, saat berkunjung ke PT SCI, Kota Salatiga, Kamis, 18 Juni 2026. (Bowo Pribadi/beritajateng.tv)

SALATIGA, beritajateng.tv – Menteri Perdagangan (Mendag) RI, Budi Santoso, menegaskan pentingnya Indonesia memiliki Agreement on Reciprocal Trade (ART) atau perjanjian dagang bilateral dengan Amerika Serikat (AS). Menurutnya, AS hingga saat ini masih menjadi salah satu pasar ekspor terbesar bagi produk-produk Indonesia.

Hal tersebut Mendag sampaikan saat melakukan kunjungan kerja ke PT Selalu Cinta Indonesia (SCI), perusahaan manufaktur alas kaki yang memproduksi sepatu merek Nike di Kota Salatiga, Kamis, 18 Juni 2026.

“Karena kita mempunyai pasar yang besar di Amerika,” ujar Budi Santoso kepada awak media.

BACA JUGA: Diduga Kena PHK Sepihak Jelang Lebaran, Eks Karyawan PT Shunfa Mengadu ke DPRD Salatiga

Menurut Mendag, PT SCI merupakan salah satu contoh perusahaan yang sangat bergantung pada pasar ekspor. Produk alas kaki yang 𝖽iproduksi perusahaan tersebut banyak 𝖽ikirim ke Amerika Serikat maupun negara-negara Uni Eropa.

Ia menjelaskan, Amerika Serikat saat ini menjadi salah satu tujuan utama ekspor Indonesia. Pada 2025, nilai ekspor Indonesia ke negara tersebut mencapai 30,9 miliar dolar AS dengan surplus perdagangan sebesar 18,11 miliar dolar AS.

“Jadi kenapa kita perlu ART dengan Amerika Serikat? Karena kita memiliki pasar yang besar di negara tersebut,” katanya.

Upaya Bangun Perjanjian Dagang Indonesia dengan Amerika Serikat

Budi mengungkapkan, upaya membangun kerja sama perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Salah satunya melalui Trade and Investment Framework Agreement (TIFA) yang 𝖽imulai sejak Juli 1996 sebagai wadah perundingan perdagangan dan investasi kedua negara.

Namun, berbagai upaya perundingan tersebut belum menghasilkan kesepakatan yang optimal.

Menurutnya, posisi Amerika Serikat sebagai pasar yang besar bagi produk Indonesia menjadi salah satu faktor yang membuat proses negosiasi berjalan tidak mudah.

“Buktinya sekarang ekspor Indonesia ke Amerika Serikat surplus 18,11 miliar dolar AS,” ujarnya.