Gaya Hidup

Mampir ke Sipatiti Ink, Studio Tato Rujukan Pecinta Seni Rajah di Semarang, Berdiri Sejak 17 Tahun Lalu!

×

Mampir ke Sipatiti Ink, Studio Tato Rujukan Pecinta Seni Rajah di Semarang, Berdiri Sejak 17 Tahun Lalu!

Sebarkan artikel ini
Sipatiti Ink
Sipatiti Ink, studio tato berusia 17 tahun di Kota Semarang. (Fadia Haris Nur Salsabila/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Tato kini sudah menjadi gaya hidup yang menjamur di berbagai kalangan. Bahkan, kini semakin mudah menemukan studio tato dengan kualitas terbaik. Tak terkecuali di Kota Semarang.

Meski tak sebanyak Bali yang menyuguhkan studio tato di berbagai sudut, studio tato di Semarang sebenarnya berjumlah cukup banyak. Salah satunya ialah Sipatiti Ink.

Sipatiti Ink lokasinya tak begitu jauh dari pusat kota atau Simpang Lima Semarang. Tepatnya di Jalan Wonodri Kopen Barat Raya Nomor 24, Wonodri, Kecamatan Semarang Selatan.

Lokasi studio berada di lantai dua, pengunjung yang datang langsung disuguhi dengan puluhan sertifikat. Berbagai peralatan tato yang canggih pun memenuhi ruangan berukuran sekitar 3 kali 8 meter itu.

Pemilik Sipatiti Ink, Oktar Abriyanto, menuturkan, Sipatiti berasal dari bahasa Dayak. Sipa berarti dukun, dan titi berarti tato. Dalam kata lain, ia ingin Sipatiti Ink bisa menjadi rujukan bagi orang-orang yang ingin membuat tato.

BACA JUGA: Dari Kafe ke Kafe, Bhubo Temporary Tatto Populerkan Tato Temporer ke Anak Muda Semarang

Oktar menyebut, studionya merupakan salah satu studio tertua di Semarang. Walau baru resmi beroperasi secara profesional pada tahun 2018 lalu, akan tetapi, Oktar telah menekuni dunia tato sejak tahun 2007 silam.

“Dari tahun 2007, dulu tempatnya masih di bawah, di kamar kecil, akhirnya bisa buka studio yang memadai 2018,” kisahnya kepada beritajateng.tv, Kamis, 25 Juli 2024.

Untuk harga, biaya pengerjaan di Sipatiti Ink bisa terbilang bersaing dengan studio lainnya. Oktar mematok mulai dari Rp500 ribu saja.

Sementara pengerjaan satu orangnya, Oktar membutuhkan waktu sekitar 3 jam untuk motif yang sederhana. Sedangkan untuk motif rumit bisa mencapai 12 jam lamanya.

Sipatiti Ink: Tato masih belum jadi kebutuhan seperti kultur luar negeri

Demi membangun Sipatiti Ink, Oktar sebenarnya pernah melanglang buana ke Bali hingga Australia. Di sana, ia belajar banyak tentang seni merajah kulit.

Ia pun menyadari adanya perbedaan yang cukup besar antara kultur pengguna tato di Indonesia dengan warga negara asing atau di luar negeri.

“Di luar negeri, tato itu kayak kebutuhan pokok. Keluar masuk studio itu kayak lihat keluar masuk Indomaret, kalau di Indonesia saya lihat masih gaya hidup ya,” ucapnya.

BACA JUGA: Mencoba Tato Temporer, Seni Rajah Tubuh Estetik tapi Tetap Halal

Meski begitu, ia sedikit bersyukur bahwa tato mulai menjadi hal biasa di masyarakat Indonesia. Hal itu tak lepas dari peran seniman tato yang memang sering mengadakan event perlombaan tato.

Kendati belum jadi kebutuhan, namun Oktar yakin usaha tato di Semarang bakal bertahan, bahkan menjamur. Apalagi, semakin banyak orang yang menganggap tato sebagai seni dalam mengekspresikan diri.

“Kalau persaingan itu relatif, yang penting saya mempertahankan kualitas. Pelanggan makin banyak sekarang,” pungkasnya. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp