Nasional

Media Lokal di Era Ponsel: Saatnya Bertransformasi Jadi Fasilitator, Bukan Sekadar Penyampai Berita

×

Media Lokal di Era Ponsel: Saatnya Bertransformasi Jadi Fasilitator, Bukan Sekadar Penyampai Berita

Sebarkan artikel ini
lokakarya media 2025
Riza Permadi, saat menjad narasumber lokakarya Media 2025, SKK Migas-KKKS Jabanusa, Rabu 8 Oktober 2025. (Heri/beritajateng.tv)

BLORA, beritajateng.tv — Lanskap media lokal di Indonesia sedang berubah cepat. Dari sekadar penyampai berita, kini media dituntut menjadi fasilitator warga. Yakni menjembatani aspirasi publik, melawan hoaks, hingga membuka peluang ekonomi lewat kolaborasi digital.

Riza Primadi, dalam paparan “Model Bisnis Media Lokal : Masa Depan Media Lokal di Era Ponsel”, menegaskan bahwa lebih dari 80 persen konsumsi berita kini terjadi lewat ponsel.

“Audiens tak lagi membuka portal berita, mereka membaca potongan konten lewat WhatsApp, Instagram, TikTok, atau YouTube,” ujarnya, saat menjadi nara sumber di Lokakarya SKKMigas – KKKS Jabanusa di hotel Gumaya, Semarang, Rabu, 8 Oktober 2025.

BACA JUGA: Selalu Libatkan Pers, Gubernur Ahmad Luthfi Ungkap Peran Media Bagi Pemerintahannya

Fenomena ini membuat akun-akun hyperlokal seperti “Info Kota” tumbuh pesat. Mereka cepat, dekat dengan warga, dan relevan. Tapi di balik itu, ada tantangan besar: kualitas jurnalisme menurun, banyak konten viral tanpa verifikasi.

“Kunci masa depan media lokal ada pada trust dan relevansi,” kata Riza. “Media harus jadi kurator informasi resmi, bukan hanya pemburu klik.” imbuhnya.

Dari Portal ke Fasilitator: Model Baru Media Lokal

Riza menawarkan peta jalan yang berani : media lokal perlu menjadi penghubung warga, pemerintah, dan sektor swasta.
Fungsi utamanya bukan hanya mengabarkan, tapi juga memverifikasi, memfasilitasi, dan menggerakkan.

Strategi monetisasi pun ikut bergeser. Media tak bisa lagi bergantung pada iklan banner. Kini, peluang ada dikontrak komunikasi publik pemerintah, CSR storytelling perusahaan, Iklan UMKM berbasis komunitas, Membership warga (akses info eksklusif), Hingga event offline seperti job fair dan festival UMKM.

Dengan model hybrid, potensi pendapatan media lokal — terutama di wilayah migas seperti Jawa Timur — bisa mencapai Rp95 hingga 145 juta per bulan.

Ponsel Adalah Meja Redaksi Baru

Media yang dulu bergantung pada kantor redaksi, kini hidup di genggaman. WhatsApp menjadi kanal paling intim dengan warga, Instagram dan TikTok menjadi panggung utama untuk milenial dan Gen Z, sementara YouTube menghadirkan storytelling panjang.

“Media harus adaptif, real-time, bahkan mampu belajar dari perilaku audiens,” terang Riza dalam konsepnya tentang Agentic Media — media yang bisa menginisiasi percakapan, menyesuaikan format otomatis, dan bahkan menjadi fasilitator transaksi antara warga dan lembaga.

BACA JUGA: Mediasi Kasus Siswi SD Semarang ke Sekolah Lewat Bantaran Sungai, Camat Gajahmungkur: Akses Jalan Akan Dibuka

Kunci Sukses Media Lokal Masa Depan

1. Bangun kepercayaan lewat verifikasi dan transparansi.
2. Gunakan ponsel dan media sosial sebagai kanal utama.
3. Kembangkan model bisnis hybrid, bukan sekadar iklan.
4. Jadilah fasilitator sosial, bukan hanya portal berita.

Era ponsel bukan ancaman bagi media lokal, justru peluang. Selama media mampu menjadi kurator terpercaya dan penggerak komunitas, mereka akan tetap hidup, bahkan tumbuh di tengah banjir informasi. “Masa depan media bukan di gedung redaksi, tapi di genggaman warga,” tutup Riza. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp