“Itu (tambak) peninggalan orang tua terdahulu, lahan sudah puluhan tahun turun temurun. Ayah (Joko Wahyono) selain berprofesi sebagai advokat, dulunya ikut mengelola tambak,” ungkapnya.
BACA JUGA: Akhirnya Cair, Dua Desa di Demak Terima Dana Kerohiman Proyek Tol Seksi 1 Semarang – Demak
Ia menambahkan, keluarganya dulu sering kesusahan saat mengelola tambak. Sebab tambak tidak memiliki batas karena bersinggungan langsung dengan laut.
“Itu tambak kan nggak ada batas-batasnya, sehingga sering kami beri waring (jaring) dan bambu sebagai pembatas. Tapi kalau ada ombak besar, waring dan bambu selalu rusak jadi harus selalu memperbaiki,” bebernya.
Bagas mengaku sebelumnya telah mengetahui adanya rencana pembebasan lahan terdampak Tol Semarang-Demak.
“Sebenarnya sudah tahu sejak tahun 2016-2017 kalau akan ada Tol Semarang-Demak. Tapi tidak menyangka kalau sampai kena di tambak saya, karena awalnya tidak sampai kena namun karena ada perubahan bidang makanya jadi kena,” ungkapnya.
Uang ganti untung Tol Semarang-Demak untuk bangun rumah hingga kost-kostan
Ia mengungkap proses ganti untung sempat berjalan alot. Hal ini lantaran tambak miliknya hanya pemerintah anggap tanah musnah yang nilai ganti ruginya hanya 30 persen dari Nilai Jual Objek Pajak (NJOP).
“Awalnya alot karena mereka menganggap tanah musnah dengan ganti untung hanya 30 persen dari NJOP. Terus banyak pemilik tambak tidak setuju sehingga pembebasan lahannya mundur. Setelah ada pengkajian ulang, akhirnya dapat Rp 500 ribu per meter,” jelasnya.
Uang ganti untung yang mencapai Rp 20 miliar milik keluarganya telah mereka bagi sesuai ketentuan waris.
“Sudah dibagi per ahli waris. Ada yang mau buat usaha kost-kostan. Ada yang buat rumah, ada masuk deposito. Tapi kebanyakan untuk investasi,” terangnya.
BACA JUGA: Warganya Berat Lepas Tanah untuk Tol Semarang-Demak, Kades Bendono: Ganti Untung Tanah Mereka!
Sementara itu, Aan Taufani, Kuasa Hukum pemilik lahan Biston mengatakan jika awalnya pihaknya ingin ganti rugi senilai harga tanah pada umumnya, bukan dihitung sebagai tanah musnah.





