Musbikin menyebut para bos besar pemilik tanah sudah menjadi miliarder sebelum menerima ganti untung tersebut. Uniknya, ia bertaruh bahwa bos pemilik tanah ganti untung itu tak akan tahu persis tanahnya tanpa para penggarap tunjukkan.

“Tidak ada fenomena miliarder dadakan, yang punya itu sudah Sultan, ya tambah Sultan lagi. Ia punya tanah tetapi kalau disuruh tunjuk tanahnya tidak paham, karena yang paham ya penggarap atau pribuminya Terboyo Kulon itu,” bebernya.
Khawatir puluhan nelayan tak bisa melaut
Kendati pemerintah telah menggelontorkan dana ganti untung kepada pemilik tanah dan penggarap, namun menurutnya ancaman yang belum terselesaikan ada pada para nelayan Terboyo Kulon.
Alasannya, pembangunan Tol Semarang-Demak nantinya akan bersamaan dengan pembuatan kolam retensi. Musbikin menyebut, adanya kolam retensi terbesar di Jawa Tengah itu membuat 30 nelayan Terboyo Kulon terancam tak bisa melaut dan membuat mereka kehilangan pendapatan.
“Kolam retensi itu kan tidak bisa diolah karena itu air hujan dari kawasan limbah Genuk. Tidak mungkin itu untuk mengembangkan ikan,” terangnya.
BACA JUGA: Pembangunan Tol Semarang-Demak Masih Terkendala Pembebasan Lahan Terendam Air
Musbikin mengaku, pihaknya telah mewakilkan nelayan untuk berkomunikasi dengan pemerintah setempat, utamanya dalam memberikan tali asih bagi para nelayan Terboyo Kulon. Namun, hingga kini nelayan tersebut belum mendapat bantuan dari pemerintah atas pembangunan Tol Semarang-Demak.
“Masalah tol ini sebenarnya bukan ganti untung tanah, penggarap tanah itu kan bisa dapat modal dari persenan. Saat ini nelayan yang belum mendapat tali asih. Saat kolam retensi itu jadi, nelayan pasti kehilangan pekerjaannya, yang setiap pulang bisa membawa minimal Rp 150 ribu itu sekarang sudah tidak bisa bekerja lagi,” paparnya.
Lelaki paruh baya itu berharap, pemerintah dapat memperhitungkan nasib nelayan yang turut terdampak pembangunan tersebut.





