“Sebenarnya harapan masyarakat dari dulu inginnya ganti rugi, bukan sebagai tanah musnah. Karena kalau ganti rugi itu, penetapan harga tanahnya lebih besar,” kata Aan Taufani.
Tapi, lanjut Aan, karena semangatnya ingin mendukung pemerintah, sehingga pihaknya memilih mengalah dan mendapat dana kerohiman.
“Meskipun bagi masyarakat angkanya (ganti untung) belum puas. Demi kepentingan pembangunan, masyarakat rela. Tanah yang harusnya diganti rugi, diganti dengan kerohiman,” katanya.
Lahan musnah dapat ganti untung Rp 15 miliar
Ia mengaku jika posisi tanah milik kliennya berupa tanah abrasi dan tambak.
“Ibaratnya kalau tidak untuk tambak pasti dilakukan reklamasi oleh klien saya. Namun kami mendukung tol, sehingga kami pasrah dan menyerahkan tanah kami sukarela,” jelasnya.
Hal ini karena tol Semarang-Demak ini, lanjutnya, memiliki kemanfaatan yang sangat besar bagi masyarakat.
“Pak Biston ini bukti rakyat Indonesia yang mau mengorbankan tanahnya untuk kepentingan negara. Karena dengan adanya tol ini, akan mendukung kegiatan ekonomi ini. Dan kami akhirnya bersedia tanah kami ditetapkan musnah mendapat ganti kerohiman,” paparnya.
Lahan musnah milik Biston, warga Jalan Sinabung, Wonotingal, Candisari, Semarang ini seluas kurang lebih 2 hektare dengan dana ganti untung Rp 15 miliar lebih.

Pembangunan tol Semarang-Demak menjadi salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) di Jawa Tengah. Targetnya proyek tersebut rampung pada tahun 2025 mendatang. Tol ini akan memangkas waktu tempuh Semarang menuju Demak atau sebaliknya yang semula 1,5 jam menjadi hanya 20 menit saja.
Ganti untung Tol Semarang-Demak, lahan banyak yang milik “Bos Besar”
Saat ini, ganti untung seksi I telah pemerintah berikan kepada warga pada 3 kelurahan terdampak. Yakni Kelurahan Trimulyo, Terboyo Wetan, dan Terboyo Kulon. Para pemilik lahan telah menerima ganti untung sebesar Rp 399.380.820.650. Uang ganti untung itu telah pemerintah serahkan pada Jumat 15 Desember 2023 lalu.





