SEMARANG, beritajateng.tv – Meski hujan sempat melanda, pagelaran perdana sendratari kolosal “Babad Fort Willem I” sukses terlaksana di pelataran Graha Mandala Cipta, kompleks Fort Willem I Ambarawa, Kabupaten Semarang, Sabtu, 17 Januari 2026 malam.
Bahkan, gerimis yang masih berlangsung di awal pegelaran tak menyurutkan animo masyarakat dan para pengunjung Fort Willem I. Mereka pun semakin mendekat ke area terbuka depan panggung utama.
Saat gerimis usai, pelataran Graha Mandala Cipta pun kian padat penonton. Mereka menikmati sajian sendratari yang melibatkan tak kurang 150 orang, baik penari, pengiring, beserta kru.
BACA JUGA: Fort Willem I Ambarawa Bakal Hadirkan Sendratari Babad, Siap Jadi Atraksi Budaya Bulanan
Sendratari Babad Fort Willem I ini mengangkat kisah sejarah pembangunan Fort Willem I Ambarawa, yang pemerintahan kolonial Belanda bangun pada tahun 1825 hingga 1830, berikut sejarah pemanfaatannya.
Mulai dari pemanfaatan bangunan sebagai bagian strategi “Benteng Stelsel” atau strategi untuk mempersempit ruang gerak musuh gagasan Jenderal Hendrik Merkus de Kock, hingga pemanfaatan sebagai aset cagar budaya, wisata sejarah, dan pengembangan seni budaya.
Bupati Semarang, Ngesti Nugraha, yang menyaksikan langsung sendratari ini memberikan apresiasi kepada The Lawu Group selaku pengelola Fort Willem I Ambarawa dan Hanoman Art selaku inisiator.
Babad Fort Willem I, Dari Ambarawa untuk Dunia
Ngesti pun mengapresiasi para seniman tari di Ambarawa serta berbagai pihak yang telah mendukung sendratari ini. “Ini sangat luar biasa, ada pagelaran sendratari Babad Fort Willem I dengan tagline ‘Dari Ambarawa untuk Dunia’,” jelasnya.
Terlebih, kata bupati, sendratari ini bakal berlangsung reguler atau rutin satu kali sebulan setiap tanggal 15, atau bertepatan dengan bulan purnama sebagai daya tarik atraksi budaya di kawasan Fort Willem Ambarawa.
Sehingga, ia berharap pagelaran ini akan menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung ke daya tarik wisata sejarah tersebut serta Kabupaten Semarang. “Apalagi di Kabupaten Semarang ada lebih 4.000 kelompok seni budaya,” tandasnya.
BACA JUGA: Fort Willem I Ambarawa Makin Elok, Menteri AHY: Bisa Jadi Kekuatan Pariwisata Baru Berskala Dunia
Ekspektasi besar juga datang dari pelaku seni budaya yang terlibat dalam pagelaran sendratari Babad Fort Willem I ini. Ini sebagaimana terungkap oleh Ela Purwanti dari Sanggar Centini Ambarawa.
Menurutnya, di Kabupaten Semarang sebenarnya banyak para pelaku seni budaya, termasuk seni tari. Sehingga ini merupakan aset untuk bisa mengembangkan pertunjukan sendratari di Kabupaten Semarang.
“Dengan begitu akan lahir lebih banyak karya budaya dalam bentuk sendratari dengan judul baru. Utamanya yang mengangkat nama Kabupaten Semarang dengan segala kekhasannya,” ungkap Ela.
Untuk itu, ia berharap setelah pagelaran perdana sendratari kolosal Babad Fort Willem I ini juga akan semakin membawa Kabupaten Semarang menjadi semakin terkenal. “Khususnya melalui karya-karya sendratari,” tandasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





