Pendidikan

Pemkot Semarang Launching Program STROBERI dan Uji Coba Implementasi Makan Siang Bergizi

×

Pemkot Semarang Launching Program STROBERI dan Uji Coba Implementasi Makan Siang Bergizi

Sebarkan artikel ini
Pemkot Semarang Launching Program STROBERI dan Uji Coba Implementasi Makan Siang Bergizi
Para siswa menikmati santapan menu program STROBERI makan siang bergizi di SD Negeri Ngaliyan 01 Semarang. (Ellya/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang melaunching program Strategi Pemberian Makan Siang untuk Perbaikan Gizi dan Pencegahan Obesitas (STROBERI) di Kantor Kecamatan Mijen, Kamis 15 Agustus 2024.

Program STROBERI ini merupakan gagasan Walikota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu bersama jajarannya. Untuk mendukung program pemerintah pusat kedepan dalam memberikan makan siang sehat, bergizi, seimbang serta berbahan pangan sehat kepada siswa di sekolah.

Sebagai pilot project, implementasi program STROBERI dilaksanakan di SD Negeri Ngaliyan 01 Kota Semarang.

BACA JUGA: Tingkatkan Pengawasan Pangan, Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang Bentuk 691 Kader Dermawan

“Kami mencoba karena pemberdayaan masyarakat melalui urban farming ini kan sudah merata di Ibu Kota Jawa Tengah,” ujar Mbak Ita, sapaan Walikota Semarang.

Kemudian, lanjut dia, pemerintahan kedepan memiliki program makan siang bergizi. Dari hal itu, pihaknya mencoba mengkolaborasikan pemberdayaan masyarakat lewat urban farming dengan kebutuhan-kebutuhan untuk makan siang bergizi.

“Sebagai pilot project, adalah di kantor-kantor kecamatan dan kelurahan, karena telah dikembangkan urban farming sedari awal. Ternyata, di kecamatan Ngaliyan mempunyai program pertanian terpadu,” kata dia.

Menurut dia, pertanian terpadu di kecamatan Ngaliyan berhasil mengembangkan dan membudidayakan berbagai peternakan dan pertanian. “Ada budidaya ikan, KUB telur dan ayam, budidaya jamur tiram, kemudian tanaman sayur dan buah lengkap,” papar dia.

Akhirnya, kata Mbak Ita, pihaknya mencoba mengkolaborasikan kebutuhan untuk program makan bergizi. Terlebih, lokasi kantor kecamatan yang berdekatan dengan SD Negeri Ngaliyan 01 Kota Semarang.

Manfaatkan Hasil Urban Farming

“Ini kan kerja bersama pemkot dan stake holder. Kami telusuri, ada panen apa di kantor kecamatan. Oh ternyata ada jamur tiram, telur, tomat sayur kemudian di olah menjadi makanan satu set menu yang sederhana tapi bergizi,” jelasnya.

Tak berhenti di sana, Mbak Ita juga menggandeng perwakilan siswa dari beberapa sekolah yang telah mengikuti Jambore Petani Cilik dan Remaja Tani untuk ikut serta dalam memasak menu bergizi.

“Menunya nasi nasi gurih dengan protein nabati, jamur tiram dan tahu sup. Ada juga omelet hasil telur KUB yang semakin bergizi dengan memasukkan tomat hasil panen di kecamatan. Untuk buah, ada melon hasil panen dari Dinas Pertanian,” imbuh dia.

Ia mengakui jika menu yang tersaji bagi anak-anak tersebut adalah menu kekinian yang mudah di buat namun gizinya terpenuhi. “Kita pilih makanan kekinian, tapi gizinya terpenuhi. Ada chicken cordon bleu lengkap dengan salad. Ada Ramen yang mie-nya dari sawi hasil urban farming. Ini bentuk pemberdayaan di sekolah,” ujarnya.

Program STROBERI, lanjut dia, bakal di implementasikan dengan mengangkat pemberdayaan masyarakat melalui urban farming dan menu sesuai kearifan lokal masing-masing.

“Kita sudah susun bukunya (menu makan siang bergizi, Red), sudah dapat untuk 3 minggu dan kami tambahkan menu dari hasil lomba anak-anak saat Jambore Petani Cilik. Kami sesuaikan dengan komposisi gizi. Bulan depan, kami launching buku menu siang bergizi,” terang dia.

Pihaknya bahkan telah menghitung jumlah biaya untuk satu set menu seharga Rp. 15.000,-. “Dengan pemberdayaan urban farming dan kearifan lokal, Kira-kira bisa menghemat Rp 2.000,- per set menu. Inilah pentingnya kolaborasi PKK, kelompok tani, Gapoktan, Karang Taruna agar ekonomi bisa berjalan dengan memutus mata rantai distribusi pangan agar komoditi pangan lebih murah,” jelasnya.

Dengan adanya program STROBERI ini, kata dia, menjadi multiplier ekonomi tersendiri bagi masyarakat. Hal ini karena para ibu-ibu yang memasak bisa mendapatkan penghasilan tambahan, kelompok tani mendapat keuntungan, dan tentunya bisa mewujudkan generasi emas sehat di 2045. (*)

Editor: Elly Amaliyah

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp