Jateng

Sudah Tiga Demo di Kantor Gubernur Jateng dalam Sepekan, Massa Aksi Serukan “Di Mana Ahmad Luthfi?”

×

Sudah Tiga Demo di Kantor Gubernur Jateng dalam Sepekan, Massa Aksi Serukan “Di Mana Ahmad Luthfi?”

Sebarkan artikel ini
pmii kota semarang demo
Massa PMII Kota Semarang menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Kota Semarang, Rabu, 17 Juni 2026 sore. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Gelombang demonstrasi mahasiswa di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah terus berlanjut dalam sepekan terakhir.

Setelah aksi pertama pada Jumat, 12 Juni 2026 dan kedua pada Senin, 15 Juni 2026, demonstrasi kembali berlangsung pada Rabu, 17 Juni 2026 sore. Kali ini, aksi digelar oleh massa Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Semarang.

Namun hingga demonstrasi ketiga yang berlangsung dalam rentang sepekan tersebut, belum ada perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah maupun DPRD Jawa Tengah yang menemui massa aksi.

Pantauan beritajateng.tv, massa mulai berdatangan ke kawasan Kantor Gubernur Jawa Tengah sekitar pukul lima sore. Selain membawa kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah pusat, massa juga membentangkan spanduk bertuliskan ‘#RapotMerah Jateng Bobrok di Tangan Luthfi’.

BACA JUGA: Koas RS Kariadi Ikut Demonstrasi di Semarang, Resah BBM Naik dan Kritik Aparat Duduki Jabatan Sipil

Di tengah jalannya aksi, seorang orator bahkan sempat mempertanyakan keberadaan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi.

“Di mana Ahmad Luthfi, sahabat-sahabat? Apakah Jawa Tengah punya gubernur?” teriak orator dari atas mobil komando.

Tak lama kemudian, sejumlah massa mencoba memasuki area Kantor Gubernur Jawa Tengah. Namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil sehingga mahasiswa tetap bertahan di luar pagar sambil melanjutkan orasi.

Desak Gerbang Dibuka, PMII Ingin Serahkan Kajian dari 15 Kampus

Ketua Korps PMII Putri (KOPRI) Pengurus Cabang (PC) PMII Kota Semarang Fardha Nihayatul Ulum mengatakan, keinginan massa untuk masuk ke area kantor gubernur bukan bertujuan membuat kericuhan.

Fardha menuturkan, mahasiswa hanya ingin berdialog secara langsung dengan pemerintah daerah sekaligus menyampaikan hasil kajian yang telah mereka susun.

“Begini, kita ingin masuk konteksnya bukan untuk chaos dan sebagainya, tapi kita ingin berdialog secara langsung. Kita ingin menyampaikan kajian-kajian yang telah kami buat,” ujar Fardha di sela-sela demonstrasi.