SEMARANG, beritajateng.tv – Fenomena badai petir yang belum lama ini terjadi di Kota Semarang dan sekitarnya sempat ramai menjadi pembahasan di media sosial.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Ahmad Yani Semarang mengungkap badai petir yang terjadi di Kota Semarang dan sekitarnya bukan tanpa alasan.
Prakirawan BMKG Ahmad Yani Semarang, Noor Jannah Indriyani membenarkan hujan disertai petir intens terjadi dalam kurun waktu 3 (tiga) hari mendatang, terhitung sejak Minggu, 1 Juni 2024 lalu.
Ia mengungkap, terjadinya petir yang cukup keras di wilayah Kota Semarang dan sekitarnya akibat lokasi yang berdekatan dengan laut.
“Wilayah Pantura, termasuk Kota Semarang, itu di pesisir. Awan-awan di Laut Jawa itu intens selama satu-dua hari ke belakang,” Noor saat beritajateng.tv temui langsung di kantornya, Senin 3 Juni 2024 sore.
BACA JUGA: Fenomena Semarang Adem di Musim Kemarau, BMKG Ahmad Yani Ungkap Ada Gangguan Atmosfer, Apa Itu?
Adapun awan yang terbentuk di wilayah pantura itu, kata Noor, ialah awan kumolonimbus.
Sebagai informasi, awan kumolonimbus ialah sebuah awan vertikal menjulang yang sangat tinggi, padat, dan terlibat dalam badai petir dan cuaca dingin lainnya.
“Awan kumolonimbus terjadi di laut, pembentukannya insentif, sehingga petirnya akan lebih besar. Terutama awan-awan kumolonimbus yang terjadi di laut,” bebernya.
Jawa Tengah hadapi ‘Kemarau Basah’ efek La Nina, apa itu?
Berbeda dengan tahun lalu, prediksi musim kemarau tahun 2024 di Jawa Tengah akan dipengaruhi oleh La Nina.
Sebagai informasi, La Nina memiliki makna penurunan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik.
“Kondisi terakhir itu masuk kategori netral. Prediksi ke depannya adanya La Nina, di mana La Nina itu terjadi di musim kemarau,” bebernya.
Dengan adanya La Nina, kata Noor, curah hujan di tengah musim kemarau akan berpotensi meningkat.
Noor pun membeberkan perbedaan El Nino dan La Nina yang berdampak pada cuaca di Jawa Tengah.
“El Nino bisa kita artikan periode kering, sementara La Nina periode basah. Kalau musim kemarau terjadi La Nina, bisa terjadi kemarau basah. Kalau pada musim kemarau terjadi El Nino, yang kering akan semakin kering,” jelasnya.
BACA JUGA: Semarang Terasa ‘Sumuk’ Saat Malam, BMKG Ahmad Yani Tegaskan Bukan Heat Wave, Ini Penyebabnya
Oleh sebab itu, kata Noor, musim kemarau tahun ini di Jawa Tengah akan sering menjumpai hujan.
“Tampaknya musim kemarau akan ditemui hujan agak signifikan, masih akan kita pantau terus. Sepertinya entah besok La Nina lemah atau pun moderat,” tandasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





