SEMARANG, beritajateng.tv – Sudewo, Bupati Pati, kembali menjadi sorotan publik. Bukan karena prestasi pembangunan, melainkan polemik kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) hingga 250 persen.
Kebijakan tersebut sempat memicu gelombang protes luas sebelum akhirnya dibatalkan. Meski begitu, perbincangan terkait sosok Sudewo belum mereda.
Di tengah polemik tersebut, muncul rasa penasaran dari masyarakat mengenai total kekayaan yang ia miliki.
BACA JUGA: Usai Minta Maaf dan Batalkan PBB 250 Persen, Bupati Pati Kini Warga Tuntut Mundur: Bakal Demo Besar
Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang disampaikan ke KPK pada 11 April 2025, harta Sudewo tercatat mencapai Rp31.519.711.746 saat awal menjabat sebagai Bupati Pati.
Angka fantastis itu tersebar dalam berbagai bentuk aset di sejumlah daerah. Aset terbesar berupa tanah dan bangunan senilai Rp17,03 miliar. Properti tersebut berada di Solo, Yogyakarta, Bogor, Depok, Pacitan, dan Tuban.
Beberapa di antaranya memiliki nilai tinggi, seperti properti di Bogor senilai Rp3,6 miliar dan bangunan di Depok senilai Rp1,5 miliar. Lokasinya yang strategis membuat aset ini bernilai komersial besar.
Koleksi kendaraan mewah Bupati Pati Sudewo
Selain properti, Sudewo juga memiliki koleksi kendaraan mewah senilai Rp6,33 miliar. Di antaranya BMW X5 tahun 2023 senilai Rp1,9 miliar, Toyota Alphard tahun 2024 senilai Rp1,7 miliar, serta Toyota Land Cruiser tahun 2019 seharga Rp1,9 miliar.
Harta lainnya meliputi surat berharga senilai Rp5,39 miliar dan kas setara kas sebesar Rp1,96 miliar. Tidak tercatat adanya utang dalam laporan tersebut, sehingga total kekayaan bersihnya tetap di angka Rp31,5 miliar.
Sudewo lahir di Pati pada 11 Oktober 1968. Latar belakang akademiknya kuat di bidang teknik, dengan gelar sarjana Teknik Sipil dari UNS dan magister dari Universitas Diponegoro. Sebelum menjabat bupati, ia berpengalaman sebagai insinyur, PNS, dan anggota DPR RI dua periode.
BACA JUGA: Bupati Pati Sudewo Batalkan Kenaikan PBB, Warga Tetap Demo 13 Agustus Mendatang
Aktif di organisasi sejak muda, ia pernah menjabat Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil, Ketua Keluarga Besar Marhaenis, hingga Ketua DPP Gerindra Bidang Pemberdayaan Organisasi.
Meski terpilih sebagai bupati dengan slogan “Wong Asli Pati Wae Go”, kebijakannya soal PBB langsung mengundang kritik.
Dalam video yang sempat viral, ucapannya memicu kemarahan warga. Ia akhirnya meminta maaf terbuka dan berkomitmen menerima masukan demi kondusivitas daerah. (*)






