SEMARANG, beritajateng.tv – Keterbatasan fisik tak menyurutkan semangat pria difabel asal Semarang ini untuk berjualan hewan kurban. Bahkan, pria difabel jual hewan kurban ini sukses meraup omset hingga jutaan rupiah menjelang Idul Adha.
Santri difabel jual hewan kurban tersebut pernah menimba ilmu pada Pondok Pesantren Futuhiyyah, Demak, Jateng. Ia bernama Muhammad Alim (37). Alim berjualan hewan kurban di sekitar Jalan Puspowarno Tengah, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang.
Siang itu ia tampak menggunakan tongkat yang membantu kakinya berjalan dengan bagian tangan kiri tak sempurna. Alim terlihat menunggu calon pembeli hewan kurban dagangannya.
BACA JUGA: Jangan Sampai Salah! Berikut Ini Tata Cara Menyembelih Hewan Kurban Lengkap dengan Rukunnya
Sosok yang juga berprofesi sebagai marbot masjid itu mampu memanfaatkan peluang bisnis pada momen yang datang setahun sekali ini.
Menurut penuturannya, ia mampu membiayai anak dan istrinya, bahkan mempekerjakan 3 pegawai melalui penjualan hewan kurban.
“Mulai berjualan tahun 2010, awalnya 15 kambing. Kalau zaman dulu harganya masih murah. Satu kambing Rp 600 ribu, paling besar Rp 1,2 juta. Lama-lama naik,” ungkap Amin kepada beritajateng.tv, Minggu, 25 Juni 2023.
BACA JUGA: Stok Hewan Kurban Jateng Dipastikan Aman, Ada 400 Ribu Ekor
Semula ia bermodalkan uang sebesar Rp 25 juta yang kemudian ia belikan sekitar 15 hingga 20 ekor kambing. Adapun uang puluhan juta itu ia peroleh melalui jamaah masjid yang memberinya kepercayaan.
“Awalnya modal 25 juta, itu bisa beli kambing 15 sampai 20 ekor. Modalnya dari jamaah masjid,” tuturnya.
Tekad dan keinginan Alim yang kuat untuk berjualan hewan kurban pernah mengantarkannya untuk mencari peternak sampai Kabupaten Magelang. Namun, kini ia telah memiliki peternak langganan untuk berbelanja hewan kurban setiap tahunnya.
Alim berjualan hewan kurban 24 jam sehari
Berawal dari menjual 15 ekor kambing, Amin kini bisa menjual hingga 45 ekor kambing setiap tahunnya. Keuntungan yang ia peroleh berkisar antara Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu untuk satu ekor kambing.
“Paling banyak terjual itu 45 ekor tahun lalu. Sebelum-sebelumnya itu 25 ekor, naik lagi jadi 30 ekor, terus 35 ekor. Dan sampai terjual 45 ekor. Itu 45 Alhamdullilah bagi saya istimewa,” terangnya.
Alim berjualan selama 24 jam dan akan membuka lapak hingga malam takbir Hari Raya Idul Adha. Ia mengaku saat ini sudah memiliki langganan tetap.
“Saya jualan 24 jam. Dari tanggal 20 Juni kemarin. Ada Kambing Ettawa, Kambing Randu, dan ada Kambing Jawa,” ucapnya.
BACA JUGA: Pedagang Hewan Kurban di Blora Kebanjiran Order Berkah Idul Adha
Ia membanderol harga kambingnya dari rentang harga Rp 3,2 juta dan yang paling tinggi pada kisaran Rp 3,8 juta.
Alim sempat menjalani kehidupan sebagai seorang santri di Pondok Pesantren Futuhiyyah. Hal itu tentu mengajarkan Alim banyak hal. Salah satunya adalah sikap mandiri dan tak pantang menyerah.
“Di pondok kita berlatih kesabaran dan kemandirian. Alhamdullilah bisa bertahan sampai sekarang,” terang Alim.
Dengan menjalani kehidupan sebagai santri selama 8 tahun, ia memutuskan untuk menjadi seorang muadzin pasca keluar dari Pondok Pesantren.
“Setelah lulus dari pondok, saya putuskan jadi muadzin sebagai bentuk pengabdian,” papar Alim.
Saat ditanya kesehariannya di luar momen Idul Adha, Alim menuturkan dirinya berjualan alas kaki seperti sandal dan sepatu untuk memenuhi kebutuhannya dan keluarga. (*)
Editor: Ricky Fitriyanto





