SEMARANG, beritajateng.tv – Ketua Umum Asprov PSSI Jawa Tengah, Yoyok Sukawi, segera mengambil langkah tegas usai mendapati kehadiran Bambang Susetyo (BS), eks mafia bola, dalam laga Persip Pekalongan kontra Sragen United. Ia pun meminta adanya evaluasi menyeluruh yang cepat dan tegas terkait hal tersebut.
BS sendiri sempat menjadi mafia bola yang pernah tersandung kasus dan beroleh larangan berkecimpung dalam persepakbolaan Indonesia seumur hidup.
Yoyok dalam pernyataannya kepada Asprov PSSI Jateng mengindikasikan keputusan untuk memanggil wasit yang bertugas dalam laga tersebut guna pihaknya mintai keterangan. Menurutnya, bila ada tanda-tanda negatif atau tindakan manipulasi skor, wasit tersebut akan langsung beroleh tindakan.
BACA JUGA: PSIS Semarang Bertengger di Peringkat Empat Klasemen Sementara Liga 1, Ini Pesan Yoyok Sukawi
“Kemudian kami juga akan melaporkan ke PSSI pusat mengenai kehadiran BS agar ada tindakan dari pusat. Yang ketiga, kami juga akan mengeluarkan surat edaran kepada semua klub peserta Liga 3 dan Askot Askab untuk lebih berhati-hati serta menolak kehadiran sosok yang konon terlibat dalam praktik mafia bola di area stadion,” tutur Yoyok, beberapa waktu yang lalu.
Melalui unggahan di Instagramnya, Selasa, 14 November 2023, Sukawi tampak telah bertemu dengan wasit yang memimpin laga Persip Pekalongan kontra Sragen United. Ia sendiri hadir bersama tim Komisi Disiplin Liga 3 Jawa Tengah.
“Kalau sampai menggangu Jawa Tengah tak-uber sampai manapun,” tegasnya.
Setelah berbicara dengan wasit tersebut, Sukawi juga berencana untuk bertemu dengan kedua tim itu. Pertemuan tersebut bertujuan untuk mengklarifikasi bahwa tidak ada indikasi praktik manipulasi skor dari pihak manapun.
“Pokoke (pokoknya) Jawa Tengah adem ayem. Ojo ono (jangan ada) mafia (bola),” ucapnya.
Tolak kehadiran mafia bola di Jawa Tengah
Sebelumnya, BS membikin gempar kalangan suporter dan pengurus Persip Pekalongan. Ketua Asosiasi Kota (Askot) Pekalongan, Mochammad Zakka, menyebut BS hadir di Pekalongan pada malam sebelum pertandingan dan berupaya menghubungi beberapa pengurus Persip.
“Malam sebelum pertandingan, BS menghubungi Sekretaris Askot yang juga bendahara Persip. Dia terus menelepon dan tidak diangkat, dan ketika akhirnya diangkat, percakapannya muter-muter terus dan tidak akhirnya ditemui,” kata Zakka.
BS tak hanya menghubungi pengurus Persip, kata Zakka, BS juga berusaha menghubungi pelatih Persip, Gatot Barnowo.
“Setelah itu, dia mencoba berkomunikasi dengan pelatih Persip, Mbah Gatot. Namun, Mbah Gatot menolak dan menegaskan tidak mau,” imbuhnya.
Pada hari pertandingan, BS yang sempat masuk ke salah satu tribun juga akhirnya suporter usir dan petugas keamanan amankan untuk mencegah terjadinya kerusuhan.
“Ternyata, malam sebelumnya BS sudah ada di stadion dan ketika dia mencoba menonton. Suporter ngusir dia. Ada indikasi bahwa dia diterima oleh salah satu pengelola Stadion Hoegeng,” ungkap Zakka.
Kejadian ini lantas memicu kemarahan suporter yang menuntut Pemerintah Kota untuk mengevaluasi individu yang menerima kehadiran BS di Pekalongan.
“Bahkan, ketika dia terusir dari tribun, dia mencari perlindungan di warung di depan stadion dan masih dikejar hingga akhirnya diamankan oleh petugas keamanan,” tandas Zakka. (*)





