Gaya Hidup

Jadi Rumah bagi Sastra Amerika Latin, Begini Sepak Terjang Penerbit Labirin Buku

×

Jadi Rumah bagi Sastra Amerika Latin, Begini Sepak Terjang Penerbit Labirin Buku

Sebarkan artikel ini
labirin buku
Founder Labirin Buku, Irman Hidayat dan Gita Nanda. (Dokumentasi Pribadi)

SEMARANG, beritaajateng.tv – Banyak yang bilang, menerjemahkan karya sastra dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia tidak semudah bayangan. Selain pandai bahasa Inggris itu sendiri, penerjemah juga harus bisa menyampaikan makna dari penulis aslinya seakurat mungkin.

Lalu, bagaimana jika yang diterjemahkan adalah sastra Amerika Latin?

Di Kota Semarang, ada satu penerbit yang fokus hanya menerjemahkan karya-karya sastra Amerika Latin. Namanya adalah Labirin Buku.

Tak seperti penerbit lainnya yang masih memproduksi buku-buku terjemahan lain seperti Eropa maupun Asia, Labirin Buku hadir khusus untuk menerjemahkan karya sastra Amerika Latin.

Founder Labirin Buku adalah Irman Hidayat dan Gita Nanda. Keduanya adalah alumni jurusan Sastra Indonesia Universitas Diponegoro (Undip).

Irman menjelaskan, Labirin Buku bermula dari tahun 2020 silam. Awalnya, ia dan Gita hanya menjual buku-buku bekas saja.

Namun kelamaan, menjual buku bekas tak cukup untuk mewadahi kecintaan mereka pada buku. Mereka juga ingin menerbitkan buku-buku dari sastrawan Amerika Latin.

“Bulan Maret 2020, atau dua minggu sebelum Pandemi Covid-19, kami resmi mendirikan Labirin Buku sebagai penerbit khusus Sastra Amerika Latin,” ungkap Irman saat beritajateng.tv hubungi, belum lama ini.

BACA JUGA: Ajak Siswa Cintai Sastra, SMA Kesatrian 2 Semarang Undang Sosiawan Leak

Singkat cerita, buku Amerika Latin pertama yang mereka terbitkan adalah karya Guillermo Rosales berjudul Penampungan Orang-orang Terbuang.

Pemilihan Guillermo Rosales pun bukan tanpa alasan. Menurut Irman, Guillermo Rosales adalah salah satu pengarang Amerika Latin yang memiliki karya yang berbeda dari pengarang lain.

“Sampai sekarang udah nerbitim tujuh judul novel dan kumpulan cerpen. Yang paling laris adalah Pesta di Sarang Kelinci karya Juan Pablo Villalobos,” beber Irwan.

Berikan khazanah

Dalam merintis Labirin Buku, bahasa menjadi kendala terbesar. Gita bahkan mempelajari bahasa Spanyol secara otodidak.

Dalam proses penerjemahan pun ternyata tidak bisa begitu saja. Labirin Buku harus mengontak agensi penulisan yang memiliki wewenang pada sang penulis atau penulisnya langsung.

“Di tahap ini kami mengirim proposal lalu negoisasi copyright. Apabila sudah berjalan lancar kami bayar lalu menerjemahkan,” imbuh Gita.

Dalam menerjemahkan dan menyunting, Irman dan Gita melakukan sendiri. Berbekal ilmu dari kuliah Sastra Indonesia, mereka pede saja dalam mengerjakan semua itu. Hasilnya pun cukup disukai oleh pembaca.

“Dalam menerjemahkan setiap buku memiliki perlakuan yang berbeda. Tergantung karakter penulisnya,” ucapnya.

Lebih jauh, Irwan dan Gita juga tak sembarangan memilih untuk menjadikan Labirin Buku sebagai penerbit khusus sastra Amerika Latin. Ada misi serius yang mereka emban.

BACA JUGA: Melihat AI Bekerja: Sekitar Pro-Kontra Sampul Buku dengan Gambar Ciptaan Akal Imitasi

Keduanya ingin, Labirin Buku bisa memberikan khazanah baru kepada pembaca-pembaca di Indonesia, khususnya dari sastrawan-sastrawan Amerika Latin.

Menurut Irwan, pembaca di Indonesia masih menganggap sastra Amerika Latin masih generasi el Boom atau penulis-penulis lama. Padahal, sastra Amerika Latin kini sudah sangat beragam.

“Kami ingin mematahkan stigma itu. Sebab memang Sastra Amerika Latin sudah bergerak banget,” tandasnya. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp