Kesuksesan kimpul di media sosial ternyata berawal dari kisah yang cukup personal. Ide mengangkat pangan lokal muncul dari lahan peninggalan sang ayah di Bantul yang di tanami berbagai komoditas seperti kimpul, mbote, kentang klesi, jagung, hingga uwi.
Ia melihat semakin sedikit generasi muda yang tertarik membudidayakan maupun mengonsumsi pangan lokal tersebut. Kondisi serupa juga terjadi pada penjual makanan tradisional seperti tempe benguk dan ongol-ongol yang sebagian besar berasal dari generasi tua.
Berangkat dari keresahan itu, @black.sheep8208 memilih memperkenalkan kembali kimpul dengan pendekatan yang lebih dekat dengan anak muda. Alih-alih menyajikan makanan tradisional apa adanya, ia mengemas kimpul menjadi menu yang tampil modern dan mudah masyarakat terima.
@black.sheep8208 Dijuluki Duta Ketahanan Pangan
Konsistensi @black.sheep8208 mengangkat kimpul dan berbagai pangan lokal membuat banyak warganet memberikan julukan “Duta Ketahanan Pangan”.
Julukan tersebut muncul karena kontennya ternilai mampu memperkenalkan kembali bahan pangan lokal tanpa terkesan menggurui. Ia memilih pendekatan yang ringan, menghibur, sekaligus edukatif sehingga kimpul yang sebelumnya identik sebagai makanan kampung kini justru menjadi topik hangat di media sosial.
Fenomena ini menunjukkan bahwa promosi diversifikasi pangan tidak selalu harus dilakukan melalui kampanye formal. Kreativitas di media sosial ternyata mampu mengubah persepsi masyarakat terhadap pangan lokal.
Kimpul Tak Lagi Dipandang Sebelah Mata
Viralnya kimpul melalui konten @black.sheep8208 menjadi bukti bahwa bahan pangan lokal masih memiliki potensi besar apabila terkemas secara kreatif.
Tak hanya menciptakan tren kuliner baru, konten-konten tersebut juga membuka ruang diskusi mengenai pentingnya menjaga keberlangsungan pangan lokal serta mendorong regenerasi petani di Indonesia.
BACA JUGA: Viral Konser NDX AKA Jadi Sorotan Gegara Penonton Sharing Pesan Tak Senonoh, Netizen: Gak Ada Malu
Kini, publik menantikan apakah viralnya kimpul hanya menjadi tren sesaat di media sosial atau benar-benar mampu meningkatkan minat masyarakat terhadap pangan lokal sekaligus memberikan dampak positif bagi para petani dan pelaku usaha pangan tradisional di berbagai daerah. (*)
Editor: Farah Nazila





