SEMARANG, beritajateng.tv – Sejumlah calon perangkat desa (caperdes) yang menjadi saksi dalam sidang dugaan korupsi pengisian perangkat desa dengan terdakwa Bupati Pati nonaktif Sudewo mengaku masih mengalami trauma setelah diminta menyerahkan uang Rp165 juta. Meski demikian, mereka menyatakan tetap bersedia mengikuti seleksi apabila ke depan proses rekrutmen dilakukan secara bersih tanpa adanya mahar.
Pengakuan saksi di sidang Sudewo tersebut tersampaikan dalam sidang pemeriksaan saksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang, Senin, 3 Agustus 2026.
Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK menghadirkan enam saksi. Yakni Kepala Desa Tamansari Gus Amin, Kepala Desa Sumberejo Susanto, serta empat calon perangkat desa. Yaitu Eko Hermawanto, Navian Nafis Nugroho, Nano Sunaryo, dan Mifta Artanti.
Dalam persidangan, keempat calon perangkat desa mengaku menyerahkan sejumlah uang dengan nominal ratusan juta rupiah. Mereka harus menyediakan Rp165 juta apabila ingin mengikuti pengisian perangkat desa, sedangkan untuk posisi sekretaris desa sebesar Rp225 juta.
Mereka juga mengaku percaya terhadap informasi yang kepala desa sampaikan karena tidak akan ada kesempatan pengisian perangkat desa lagi apabila tidak mengikuti proses tersebut.
BACA JUGA: Sidang Pemeriksaan Saksi Sudewo, Kuasa Hukum Sebut Kades Belum Paham Aturan Baru
Di akhir pemeriksaan saksi, majelis hakim yang Edwin Pudyono pimpin, menanyakan kondisi para calon perangkat desa setelah adanya peristiwa tersebut.
“Apakah peristiwa ini menjadikan saudara kemudian menjadi tidak terpanggil lagi untuk mengabdi sebagai perangkat desa?” tanya hakim anggota Bonifasius Nadya Aribowo.
Salah seorang saksi mewakili menjawab bahwa hingga kini mereka masih merasakan trauma.
“Untuk sementara, belum, mungkin gitu ya. Untuk sementara dulu. Nah, mungkin trauma ya. Iya, trauma,” jawab saksi.
Namun majelis hakim kembali menggali kemungkinan apabila suatu saat pemerintah kembali membuka seleksi perangkat desa dengan mekanisme yang transparan dan tanpa praktik pemberian uang.





